Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BEI: Jumlah IPO Indonesia Terbanyak di Asia Tenggara

Dalam kondisi yang dinamis aktivitas pendanaan melalui IPO masih yang paling tinggi di Asean.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 16 Juli 2020  |  14:08 WIB
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia mencatat aktivitas penawaran umum saham perdana atau IPO di Indonesia sepanjang tahun berjalan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna Setya menjelaskan bahwa dampak dari pandemi Covid-19 telah memberikan pengaruh terhadap perekonomian global tidak terkecuali pasar modal.

Namun demikian, dalam kondisi yang dinamis aktivitas pendanaan melalui IPO masih yang paling tinggi di Asean.

"Ternyata aktivitas IPO sampai Juni 2020 juga lebih tinggi dibandingkan 2018-2019," paparnya Dalam acara Membangun Optimisme Pendanaan Melalui Pasar Modal yang digelar Bisnis Indonesia dan PT Danareksa Sekuritas, Kamis (16/7/2020).

Jumlah IPO saham sudah mencapai 28 emiten baru, meningkat dari posisi semester I/2019 sebanyak 21 emiten, dan semester I/2018 sejumlah 17 emiten.

Adapun, hingga saat ini, jumlah IPO terus bertambah menjadi 32 perusahaan dengan total emisi Rp3,82 triliun. Total emiten pun sudah mencapai 696 perusahaan.

Sementara itu, rata-rata realisasi IPO di Asia Tenggara pada semester I/2020 tidak mencapai dua digit. Malaysia misalnya hanya 7 perusahaan IPO, Singapura 5 perusahaan, Thailand 2 perusahaan, dan Filipina 1 perusahaan.

Sebelumnya, Nyoman melaporkan terdapat 19 perusahaan yang berencana melakukan pencatatan saham di BEI sampai dengan 10 Juli 2020. Calon penghuni baru bursa efek itu berasal dari beberapa sektor.

Secara detail, sembilan perusahaan dari sektor trade, service and investment, dua dari sektor consumer good industry, serta tiga dari sektor agriculture.

Adapun, tiga perusahaan sisanya bergerak di sektor basic industry and chemicals, infrastructure utilities dan transportation, serta finance.

Di sisi lain, Nyoman mengungkapan bursa efek dalam negeri menempati urutan pertama terkait penambahan jumlah perusahaan tercatat melalui initial public offering (IPO) sampai dengan periode Juni 2020. Hal itu berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Ernst & Young (EY) pada 29 Juni 2020.

“Bila dibandingkan dengan tahun lalu, maka jumlah perusahaan tercatat mengalami peningkatan sebesar 59 persen dan total nilai penawaran umum mengalami peningkatan sebesar 40 persen,” jelasnya.

Nyoman menyebut minat perusahaan untuk melakukan IPO masih tinggi pada semester II/2020. Bursa berharap kondisi ke depan akan semakin kondusif sehingga dapat menambah keyakinan perusahaan untuk menggalang dana dari pasar modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top