Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Tak Jadi Kendala IPO di Dunia

Seiring berkembangnya teknologi, proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang merupakan kesepakatan rumit telah diadaptasi ke dalam berbagai cara.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  10:19 WIB
Bursa Asia - Bloomberg.
Bursa Asia - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA — Penerbitan saham secara global diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun kendati pandemi menghalangi pertemuan tatap muka. 

Seiring berkembangnya teknologi, proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang merupakan kesepakatan rumit telah diadaptasi ke dalam berbagai cara.

Terbaru, alih-alih mengunjungi sejumlah kota dan benua untuk bertemu dengan calon investor, kini roadshow di Amerika Serikat dilakukan secara virtual dan durasinya diperpendek menjadi 4—5 hari dari sebelumnya 7—8 hari. 

Sementara itu, penjajakan juga dilakukan lebih informal dengan pertemuan bersama investor prospektif yang telah memperlihatkan minat sebelumnya.

Ryan Parrish, Head of Equity Capital Market Syndicate Bank of America Corp., mengatakan bahwa investor kini merealisasikan proses roadshow yang lebih singkat.

“Hal ini membuat interaksi dengan calon investor menjadi lebih penting sebelum IPO,” kata Parrish seperti dikutip Bloomberg, Rabu (15/7/2020).

Walaupun pertemuan tersebut sama saja seperti roadshow formal, tetapi dalam pertemuan itu tidak ada penawaran saham secara resmi. Calon investor hanya akan memperlihatkan minat dan berkomitmen untuk ikut dalam penjatahan.

Komisi Bursa Efek dan Sekuritas di AS pada tahun lalu telah memperbolehkan pertemuan seperti itu untuk semua jenis perusahaan. Sebelumnya, hanya perusahaan yang bertumbuh yang boleh mengadakan roadshow virtual tersebut.

Adapun, tujuan dari roadshow singkat dan virtual juga untuk mencari investor potensial yang biasanya institusi supaya mau berkomitmen sebelum proses book building

Dengan demikian, calon emiten dapat tenang saat perdagangan awal saham setelah IPO. Dengan kehadiran investor institusi, calon emiten cenderung akan mengalokasikan saham yang lebih banyak kepada jenis investor yang tidak akan langsung menjual saham ketika pertama kali diperdagangkan.

Sebagai contoh, ZoomInfo Technologies Inc. yang IPO pada bulan lalu berhasil mendapatkan komitmen dari BlakcRock Inc., Fidelity Investments, dan Dragoneer Investment Group LLC., senilai total US$300 juta. Investasi seperti ini wajar di Asia tetapi tidak populer di AS, terutama untuk IPO perusahaan teknologi.

PENCATATAN BARU

Walaupun ada penurunan IPO dari sisi jumlah maupun nilai saat AS melakukan lockdown pada Maret, indeks Nasdaq Composite dan indeks S&P kini telah bergerak menuju level tertinggi sepanjang sejarah.

Bloomberg mencatat, penerbitan saham baru pada kuartal II/2020 di AS telah melebihi US$130 miliar atau melonjak dari US$41 miliar pada kuartal sebelumnya. Pada Juni, tercatat listing IPO senilai total US$67 miliar.

Kendati saat ini para underwriter masih kesulitan untuk kembali bekerja di kantor, Head of Equity Capital Markets JPMorgan Chase & Co. Greg Chamberlain mengatakan hal itu tidak menjadi masalah.

“IPO bisa dilakukan secara virtual. Semua proses berubah, berevolusi, dan berinovasi,” ujar Chamberlain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa global initial public offering

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top