Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cadangan Batu Bara Melimpah, Bukit Asam (PTBA) Masih Kepincut Akuisisi Tambang Baru

Cadangan batu bara tertambang Bukit Asam mencapai 3,25 miliar ton. Perseroan terus mengkaji setiap peluang akuisisi untuk menambah cadangan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  13:34 WIB
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan batu bara, PT Bukit Asam Tbk., terus mengkaji peluang untuk mengakuisisi lahan tambang baru guna memperkuat cadangan batu bara.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam  Apollonius Andwie C. mengatakan cadangan batu bara baru diperlukan sebagai modal keberlanjutan usaha.Adapun, salah satu strategi penambahan cadangan itu, lanjut Apollonius, yaitu dengan mengakuisisi lahan-lahan tambang.

Saat ini total sumber daya PTBA mencapai 8,17 miliar ton dengan total cadangan tertambang 3,25 miliar ton. Tambang Tanjung Enim masih menjadi penopang perseroan dengan sumber daya sebesar 4,64 juta ton dan cadangan tertambnag sebesar 2,84 juta ton.

Dia mengatakan, program akuisisi tambang masih berjalan dan perseroan akan terus mengkaji setiap peluang yang ada. Emiten berkode saham PTBA itu membuka opsi selebar mungkin dan tidak secara khusus membidik daerah tertentu untuk menjalankan aksi itu.

“Secara khusus tidak ada daerah tertentu yang menjadi target, yang penting akuisisi itu harus memberi nilai positif secara keseluruhan bagi perseroan dan target tentu bisa tambang di dalam negeri dan bisa juga di luar negeri,” ujar Apollonius saat jumpa pers virtual, Selasa (14/7/2020).

Apollonius menjelaskan bahwa saat ini sesungguhnya merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan akuisisi tambang. Hal itu didukung oleh tren pelemahan harga batu bara yang akan membuat valuasi lokasi tambang juga ikut menurun sehingga membawa keuntungan tambahan bagi perseroan.

Namun, PTBA mengaku memiliki banyak pertimbangan untuk menjalankan aksi tersebut saat ini, yaitu masih harus mencermati dari segala aspek mulai dari sisi komersial hingga masalah legalitas. Dengan demikian, akuisisi lahan tambang oleh PTBA belum dapat dipastikan realisasinya.

Terlepas dari hal itu, perseroan mengaku memiliki opsi sumber pendanaan yang cukup luas jika akuisisi itu akan segera dilakukan.

“Opsi pendanaan cukup banyak bagi  kami dengan kondisi keuangan saat ini, bisa internal cash, bond, atau debt untuk danai akuisisi-akuisisi itu,” papar Apollonius.

Di sisi lain, perseroan juga membuka kesempatan dan bersedia jika dihibahkan bekas wilayah tambang PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT) yang diterminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B) per Oktober 2017 oleh pemerintah.

Untuk diketahui, wilayah bekas  tambang PT AKT memiliki luas 21.630 hektare di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Adapun, PT AKT merupakan entitas usaha PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN) yang delisting pada awal Januari 2020.

Saat ini, wilayah tambang itu masih  menjadi polemik pasalnya terdapat dugaan suap pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT oleh Borneo Lumbung Energi & Metal. Bahkan, Samin Tan, pemilik Borneo Lumbung Energi & Metal telah dijadikan tersangka.

“Secara aturan itu kan setelah semua clear legalnya memang [Tambang Eks PT AKT] akan ditawarkan ke BUMN, tetapi kita akan pelajari terlebih dahulu dan membuat studi apakah layak atau bisa menambah nilai ke PTBA,” papar Apollonius.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bukit asam
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top