Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tarif Tanker Lambat Naik, Begini Dampaknya Terhadap Buana Lintas Lautan (BULL)

Walaupun pendapatan Buana Lintas Lautan masih didominasi pasar domestik, eksposur tarif internasional mulai meningkat tahun ini sehingga kenaikan tarif tanker yang lambat dinilai bisa membebani perusahaan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  14:56 WIB
MT Bull Flores, salah satu kapal milik PT Buana Lintas Lautan Tbk. - bull.co.id
MT Bull Flores, salah satu kapal milik PT Buana Lintas Lautan Tbk. - bull.co.id

Bisnis.com,JAKARTA — Fitch Ratings memprediksi pelemahan tarif kapal tanker akan membebani kinerja keuangan PT Buana Lintas Lautan Tbk karena 15 persen dari total kapasitas armada mengandalkan pendapatan dari tarif spot internasional.

Dalam publikasinya yang dikutip Senin (13/7/2020), Fitch meyakini tarif kapal tanker internasional berangsur pulih meski dalam fase yang lambat. Kondisi itu terjadi setelah penurunan cukup dalam pada Mei 2020.

Fitch mencatat terjadi penurunan hingga di bawah 500 poin untuk The Baltic Dirty Tanker Index dari rerata 1.200 pada Maret—April 2020. Posisi itu menjadi yang terendah sejak 2009. Sementara itu, The Baltic Clean Tanker Index juga turun menjadi di bawah 400 poin dari rata-rata sekitar Rp1.305 poin pada April 2020.

Lembaga pemeringkat internasional itu melihat operator tanker asal Indonesia seperti Buana Lintas Lautan memiliki keuntungan dari pasar domestik yang lebih stabil. Hal itu sejalan dengan perlindungan regulasi dari persaingan asing serta dominasi dari PT Pertamina (Persero) sebagai pendorong utama pendapatan.

Kendati demikian, Fitch menyorot paparan emiten berkode saham BULL itu terhadap tarif internasional telah meningkat pada 2020. Perseroan memiliki 24 dari 25 kapal menggunakan skema time-charter contracts akhir 2019 sementara satu kapal merupakan bagian dari yang dikelola oleh pool operator dan memperoleh pendapatan berdasarkan kurs spot internasional.

Fitch mencatat bagian dari kapasitas armada BULL yang dikelola oleh pool operator telah meningkat menjadi 14 persen pada akhir kuartal II/2020 dengan total 33 kapal. Selain itu, perseroan juga memiliki dua kapal yang merupakan 10 persen dari kapasitasnya berdasarkan kontrak time-charter contracts dengan tarif dasar dan terbalik apabila tarif spot internasional lebih tinggi.

Fitch menyebut saat ini BULL tengah berusaha mengalihkan armada di bawah pool operator untuk kontrak jangka pendek tiga hingga enam bulan dari September 2020. Tujuan strategi itu untuk membatasi dampak dari penurunan tarif kapal tanker.

Lembaga pemeringkat itu menggarisbawahi outlook negatif dalam peringkat kredit B+ BULL mencerminkan risiko terhadap profil keuangan akibat tarif internasional yang lemah. Prospek itu terlepas dari pengeluaran berkelanjutan untuk ekspansi armada.

Fitch memperkirakan tingkat leverage kotor funds from operations (FFO) akan meningkat menjadi 3,8 kali pada 2021 dari 2,9 kali tahun ini. Lembaga pemeringkat internasional itu juga berasumsi BULL akan mengakuisisi lima kapal lagi dengan nilai US$100 juta pada 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak buana lintas lautan
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top