Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibayangi Sentimen Negatif, Lelang SUN Diperkirakan Tetap Ramai

Penawaran pada lelang SUN esok diperkirakan mencapai Rp75 triliun hingga Rp90 triliun.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  14:36 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen global yang kurang kondusif disebut akan mempengaruhi hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) pada esok, Selasa (29/6/2020). 

Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana mengatakan, minat investor terhadap lelang SUN besok diperkirakan masih cukup baik. Ia memperkirakan jumlah penawaran yang akan masuk kurang lebih sama dengan hasil lelang dua pekan lalu.

Pada lelang SUN 16 Juni 2020, pemerintah meraup angka penawaran sebesar Rp84,822 triliun. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil pada 2 Juni lalu sebesar Rp105,271 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah menyerap dana sebesar Rp20,5 triliun.

“Sepertinya masih belum akan berubah banyak, antara Rp80 triliun hingga Rp90 triliun masih akan menjadi nilai yang realistis,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (29/6/2020).

Fikri mengatakan, investor masih cenderung menahan diri untuk kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Hal ini terjadi karena outlook ekonomi dunia yang kian suram oleh sejumlah lembaga.

“Proyeksi IMF terkait kontraksi ekonomi yang semakin dalam akan menambah kekhawatiran investor asing sehingga membuat mereka cenderung wait and see,” jelasnya.  

Ia melanjutkan, dari sisi domestik, minat investor akan cukup ramai. Hal tersebut didorong oleh kemungkinan penurunan tingkat imbal hasil (yield) dalam negeri di masa depan.  Prospek penurunan tersebut ditopang oleh pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.

“Sehingga real yield domestik pun juga akan semakin besar,” tambahnya.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan investor asing masih berhati-hati untuk masuk kembali ke pasar obligasi Indonesia. Lonjakan kasus positif virus corona dinilai menjadi sentimen negatif yang dapat mengurangi aliran modal asing (capital inflow) dari lelang besok

“Mereka (investor asing) sedang mencari timing yang pas, karena saat ini kondisi pasar sedang tidak menentu,” ungkapnya.

Meski demikian, lelang besok juga akan ditopang oleh kebijakan penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Hal tersebut akan menurunkan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang membuatnya menarik di mata para investor.

Data dari World Government Bonds menyatakan, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di level 7,309 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan 0,5 basis poin bila dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya.

“Diperkirakan angka penawaran lelang SUN besok akan berada diatas Rp75 triliun,” katanya.

Pemerintah akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah pada 30 Juni 2020 dan menargetkan pendapatan sebanyak Rp40 triliun.

Pemerintah akan mengeluarkan dua Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang merupakan keluaran terbaru dan lima Obligasi Negara. Dari penerbitan ketujuh SUN, pemerintah mematok target indikatif sebesar Rp20 triliun dan maksimal Rp40 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top