Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saat Lembaga Keuangan Getol Obligasi Pemerintah

Sejumlah institusi domestik mengakumulasi kepemilikannya di instrumen surat berharga negara (SBN) baik surat utang negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN).
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  16:10 WIB
Petugas teller menata uang rupiah di salah satu cabang Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas teller menata uang rupiah di salah satu cabang Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Investor institusi domestik menyerbu surat berharga negara setelah Bank Indonesia mengumumkan penurunan suku bunga acuan pekan lalu. Pembelian obligasi pemerintah oleh dana pensiun, asuransi, dan perbankan diprediksi masih akan terus mengalami kenaikan.

Sejumlah institusi domestik mengakumulasi kepemilikannya di instrumen surat berharga negara (SBN) baik surat utang negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN). Fenomena itu terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,25 persen.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan kepemilikan bank, reksa dana, asuransi, asing, dan dana pensiun (dapen) di dalam SBN domestik yang dapat diperdagangkan mengalami kenaikan pada rentang 18 Juni 2020 hingga 22 Juni 2020.

Kepemilikan bank misalnya, naik dari Rp1.020,63 triliun menjadi Rp1.032,80 triliun pada, Senin (22/6/2020). Porsi kepemilikan institusi itu naik dari 32,89 persen menjadi 33,35 persen.

Sampai dengan periode Senin (22/6/2020), kenaikan porsi kepemilikan tertinggi juga tercatat untuk institusi perbankan. Persentase naik dari 21,22 persen per 31 Desember 2019 menjadi 33,35 persen.

Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengungkapkan semua investor institusi mencatatkan net buy setelah pemangkasan suku bunga acuan BI. Faktor penurunan BI7DRR menjadi salah satu katalis positif khususnya outlook terkait ruang bank sentral menurunkan suku bunga lanjutan masih terbuka.

“Selain itu, faktor pelemahan dolar Amerika Serikat juga memberikan sentimen positif untuk pasar obligasi,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (24/6/2020).

Handy melihat tren pembelian obligasi oleh dapen dan asuransi masih akan mengalami kenaikan. Pasalnya, kondisi dua institusi itu net inflow dan masih ekses likuiditas.

“Permintaan obligasi dari perbankan juga kemungkinan masih akan meningkat karena pemrintan kredit turun,” ujarnya.

Di sisi lain, dia menilai porsi asing masih bisa mengalami penurunan apabila mereka belum kembali masuk ke SBN. Pasalnya, pemerintah masih akan banyak menerbitkan obligasi.

“Jika tidak terserap oleh pasar, maka potensi ke depannya kepemilikan BI yang akan naik,” imbuhnya.

Secara terpisah, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menilai langkah yang ditempuh sejumlah institusi keuangan untuk mendorong yield tambahan untuk instrumen investasi. Keputusan itu seiring dengan kemungkinan turunnya yield atau imbal hasil SBN di pasar sekunder yang mencerminkan kenaikan harga.

“Tujuan akhirnya menjaga nilai investasi mereka,” jelasnya.

Fikri menilai saat ini investor asing masih cenderung wait and see. Aliran modal masuk atau capital inflow belum sebanyak capital outflow yang terjadi.

“Jika asing masuk menurut saya nilainya akan cukup mendorong yield lebih rendah lagi,” tuturnya.

Berdasarkan data Bloomberg, yield SUN tenor 10 tahun Indonesia parkir di level 7,112 persen pada, Rabu (24/6/2020) pukul 15:08 WIB. Posisi itu naik dari 7,139 persen pada akhir sesi, Selasa (23/6/2020).

Sementara itu, yield SUN tenor 5 tahun Indonesia mengalami penurunan dari 6,569 persen menjadi 6,506 persen. Selanjutnya, yield SUN tenor 15 tahun Indonesia juga mengalami penurunan dari 7,590 persen menjadi 7,547 persen.

Adapun, yield SUN tenor 20 tahun Indonesia juga turun dari 7,619 persen menjadi 7,592 persen.

Pergerakan harga obligasi dan yield obligasi saling bertolak belakang. Kenaikan harga obligasi akan membuat posisi yield mengalami penurunan sementara penurunan akan menekan tingkat imbal hasil.

Pengamat Pasar Modal Anil Kumar menilai ada korelasi antara pemotongan suku bunga BI dan penurunan yield meski tidak terlalu besar. Menurutnya, terjadi risk on di aset emerging market high yield akibat kemungkinan yield curve control di negara maju seperti Amerika Serikat yang bisa dilakukan oleh The Federal Reserve.

“Di sektor perbankan, terjadi perubahan kebijakan BI yang memindahkan giro wajib minimum dari bank sentral ke obligasi negara. Di sektor asuransi, premi yang masuk diinvestasikan ke aset yang lebih konservatif, itulah mengapa pada tahun ini kepemilikan bank dan asuransi bertambah ” paparnya.

Anil memproyeksikan porsi asing di SBN berpeluang terus mengalami peningkatan. Kondisi itu terjadi apabila yield curve control dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat.

“Di situlah ekonomi dunia akan mulai bertumbuh kembali dengan baik. Jika ini terjadi, imbal hasil obligasi pemerintah indonesia akan turun terus ke target yang terus saya katakan yaitu 6 persen,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sun Suku Bunga Obligasi Pemerintah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top