Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rupiah Menguat, Bos BI: Ditopang Capital Inflow

Pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2020) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.077 per dolar AS.
Lorenzo A. Mahardika dan Feni Freycinatia
Lorenzo A. Mahardika dan Feni Freycinatia - Bisnis.com 18 Juni 2020  |  15:40 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus menguat seiring dengan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

Pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2020) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.077 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,055 poin atau 0,06 persen ke level 97,103 pada pukul 14.59 WIB.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sampai dengan 17 Juni 2020, nilai tukar rupiah mengalami apresiasi sebesar 3,75 persen secara point to point atau 5,69 persen secara rerata dibandingkan dengan level Mei 2020. Namun, rupiah masih terdepresiasi sebesar 1,42% bila dibandingkan dengan level akhir 2019.

"Berlanjutnya penguatan rupiah ditopang oleh meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tingginya daya tarik aset keuangan domestik dan terjaganya kepercayaan investor asing terhadap prospek kondisi ekonomi Indonesia," ujarnya dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Kamis (18/6/2020).

Perry menyampaikan Bank Indonesia memandang level nilai tukar rupiah secara fundamental masih undervalued, sehingga berpotensi terus menguat dan dapat mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Potensi penguatan nilai tukar rupiah didukung oleh beberapa faktor fundamental, seperti inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah, imbal hasil aset keuangan domestik yang kompetitif, dan premi risiko Indonesia yang mulai menurun.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia terus mengoptimalkan operasi moneter guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas.

Terkini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2020 memutuskan untuk memangkas BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar  25 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen.

Dengan keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,00 persen.

Keputusan RDG tersebut sesuai dengan konsensus yang dikumpulkan Bloomberg memperlihatkan sebanyak 15 ekonom memperkirakan BI akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

Perry menyatakan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi pada 2021 dapat melonjak mencapai 5 persen - 6 persen, setelah cenderung melorot pada 2020 sebesar 0,9 persen - 1,9 persen.

"2021 [PDB] akan kembali meningkat ke 5-6 persen didorong perbaikan ekonomi global, stimulus BI, dan faktor fundamental. BI akan kuatkan sinergi dengan pemerintah dan otoritas," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah bank indonesia dolar as Rupiah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top