Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sinyal Ekonomi China Berangsur Pulih, Harga Tembaga Siap Merangkak Naik

Harga tembaga kontrak 3 bulan di bursa LME parkir di level US$5.699 per ton. Harga tembaga dinilai sangat peka terhadap perkembangan ekonomi China karena negar itu merupakan konsumen tembaga terbesar di dunia.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 Juni 2020  |  16:42 WIB
Tembaga. - Bloomberg
Tembaga. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga terpantau masih berada di jalur kenaikan dalam beberapa perdagangan terakhir ; memperkuat sinyal bullish seiring dengan sentimen pemulihan ekonomi global masih berhembus kencang.

Berdasarkan data Bloomberg, berada di zona hijau selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Tembaga adalah logam yang kerap dianggap sebagai barometer ekonomi karena digunakan oleh banyak industri,  mulai dari mobil hingga elektronik

Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2020), harga tembaga kontrak 3 bulan di bursa LME parkir di level US$5.699 per ton, menguat 0,17 persen atau 9,5 poin. Harga tembaga berhasil membalikkan keadaan, setelah pada medio Maret 2020 anjlok ke level US$4.371 per ton.

Padahal mengawali 2020, harga tembaga berhasil menyentuh level tertinggi di US$6.343 per ton. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga tembaga masih terkoreksi 7,86 persen.

Kinerja year to date itu pun menjadi salah satu yang terlemah di antara logam dasar lainnya, di bawah aluminium yang terkoreksi 12,07 persen dan seng yang turun 9,66 persen.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa pada pekan lalu tembaga berhasil menguat ke level tertingginya sejak pertengahan Maret, didukung oleh sinyal pemulihan ekonomi China, sebagai konsumen tembaga terbesar dunia, akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, ketersediaan tembaga yang rendah hampir di seluruh gudang penyimpanan dunia, menjadi di level persediaan global terendah sejak dua tahun terakhir juga menjadi bantalan kuat bagi harga tembaga.

“Permintaan fisik yang kuat untuk tembaga di China dan jumlah pasokan yang ketat adalah sentimen positif untuk harga dalam beberapa perdagangan ke depan,” ujar Wahyu saat dihubungi Bisnis, Selasa (9/6/2020).

Dia menjelaskan bahwa harga tembaga sangat peka terhadap perkembangan ekonomi China. Tumbuh positif atau negatifnya ekonomi China cenderung mendorong harga tembaga untuk naik atau turun.

Naiknya harga tembaga juga dapat dianggap sebagai proksi untuk kesehatan pasar komoditas yang lebih luas. Hal itu dikarenakan ketika tembaga dalam permintaan tinggi dan harga naik, komoditas industri dan pertanian lainnya akan cenderung mengikuti.

Dia pun menilai reli penguatan tembaga bisa berlanjut sepanjang Juni yang juga didukung oleh credit impuls dan penggelontoran stimulus ekonomi oleh pemerintah China.

Adapun, credit impuls China dianggap sebagai indikator tunggal terbaik untuk peningkatan permintaan logam dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut, yang memperkuat prospek permintaan tembaga menjadi bergerak cenderung datar atau sedikit lebih tinggi.

Tidak hanya China, pemerintah Eropa juga telah memetakan langkah stimulus, termasuk dukungan untuk sektor kendaraan listrik dan infrastruktur pengisian daya serta jaringan 5G yang dapat mengangkat permintaan tembaga

Kendati berbagai indikator dan fundamental membaik dan memberikan sentimen positif, prospek eskalasi ketegangan hubungan dagang AS dan China dapat menjadi ancaman baru bagi harga tembaga.

Oleh karena itu, dia memperkirakan kisaran harga tembaga tidak akan jauh berbeda dibandingkan dengan kisaran harga pada tahun sebelumnya, atau bergerak di antara US$4.300-US$7.300 per ton.

“Sedangkan, level US$5.000-US$6.000 per ton bisa menjadi area konsolidasi sekaligus gravitasi yang menarik harga jika anjlok ataupun melonjak,” papar Wahyu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas tembaga harga tembaga
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top