Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tidak Cukup New Normal, Butuh 'Vitamin' Tambahan agar Saham Konstruksi Kembali Bugar

Kenormalan baru atau new normal dinilai tidak akan mengembalikan kecepatan pengerjakan proyek emiten konstruksil. Kecepatan dalam penyelesaian proyek menjadi aspek penting karena menjadi syarat pembayaran jasa konstruksi dari pemilik proyek.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  16:02 WIB
Progres pembangunan konstruksi Jalan Tol Pekanbaru-Dumai pada Kamis (20/2 - 2020). Tol Pekanbaru/Dumai terus dipacu pengerjaannya agar bisa rampung seluruhnya pada April 2020. Hingga 21 Februari 2020 seksi 1 Pekanbaru/Minas sepanjang 9,5 kilometer telah rampung. Bisnis/Agne Yasa.
Progres pembangunan konstruksi Jalan Tol Pekanbaru-Dumai pada Kamis (20/2 - 2020). Tol Pekanbaru/Dumai terus dipacu pengerjaannya agar bisa rampung seluruhnya pada April 2020. Hingga 21 Februari 2020 seksi 1 Pekanbaru/Minas sepanjang 9,5 kilometer telah rampung. Bisnis/Agne Yasa.

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten di sektor konstruksi diperkirakan membutuhkan lebih dari sekadar kenormalan baru atau new normal untuk mencegah pemburukan kinerja berlanjut. 

Sejumlah emiten konstruksi sebelumnya memang telah menyampaikan dampak Covid-19 terhadap kinerja operasional. Beberapa emiten menyatakan, pandemi membuat sebagai proyek yang dikerjakan harus mengalami perlambatan bahkan penghentian sementara.

Berdasarkan perkiraan empat BUMN karya, kondisi ini terjadi 1—3 bulan, emiten memproyeksikan pendapatan akan menurun rata-rata di kisaran 25 persen—50 persen pada kuartal I/2020. Adapun, laba bersih diproyeksikan turun lebih dalam lagi di kisaran 25 persen—75 persen.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Selvi Ocktaviani menyatakan bahwa sejauh ini emiten di sektor konstruksi telah menyampaikan proyeksi penurunan kinerja karena pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan terjadinya perlambatan produksi yang akan menekan perolehan laba dan pendapatan.

“Proyeksi tahun ini lebih mengikuti guidance dari emiten, belakangan di keterbukaan informasi ada dampak Covid-19, dan emiten berikan proyeksi penurunan kinerja,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Di tengah proyeksi penurunan kinerja, emiten konstruksi mendapatkan angin segar dari rencana pemberlakukan kenormalan baru. New normal adalah upaya pengembalian aktivitas sebelum terjadi pandemi dengan kepatuhan pada protokol kesehatan dan keamanan.

Selvi menyebut, kenormalan baru akan mendorong percepatan progres pekerjaan proyek sehingga turut membuka keran pembayaran kepada kontraktor. 

Meski begitu, dia mengatakan bahwa normal baru diperkirakan tidak akan langsung menyulap kinerja emiten konstruksi. Dia berpendapat bahwa emiten di sektor ini akan memerlukan waktu yang lebih panjang untuk penyesuaian normal baru.

New normal tidak berarti langsung kembali seperti dulu, progres pekerjaan tidak bisa diharapkan dengan kecepatan yang sama dengan masa sebelum Covid-19,” jelasnya.

Dia juga mengatakan bahwa meski akan ada percepatan pengerjaan proyek saat masuk fase normal baru, hal ini diperkirakan tidak akan dapat menutupi potensi penurunan pendapatan dan laba yang terjadi hingga April.

Menurutnya, untuk mengejar penurunan kinerja akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam sepanjang 2 bulan terakhir, diperlukan percepatan proyek yang signifikan.

Dia juga mengatakan bahwa dengan kondisi penuh ketidakpastian saat ini, sulit memproyeksikan kapan sektor konstruksi akan benar-benar kembali bergeliat. Pasalnya, gelombang kedua penyebaran virus yang terjadi di sejumlah negara juga dikhawatirkan dapat terjadi di dalam negeri.

Dengan pertimbangan berbagai faktor tersebut, Selvi memperkirakan kinerja emiten konstruksi pada tahun ini dipastikan akan menurun. Indikasinya terlihat dari proyeksi emiten yang menyatakan telah terjadi penurunan pada kuartal I/2020, meski wabah Covid-19 baru mulai menghantui pada Maret.

Meski begitu, dia menyatakan  tidak berarti emiten konstruksi pada tahun ini akan mencatatkan rugi. Dampak penurunan kinerja terhadap posisi bottom  line akan terjadi bervariasi terhadap emiten, tergantung pada fundamental masing-masing perusahaan.

“Kalau saya melihatnya, strong balance sheet akan lebih resilient, karena berhubungan dengan kemampuan memenuhi kewajiban baik terhadap internal, maupun eksternal seperti supplier dan kreditur,” ujarnya.

Di sisi lain, laju saham emiten konstruksi terbilang moncer dalam sebulan terakhir. Delapan emiten konstruksi mencetak kinerja positif dalam perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2020). Secara harian, saham PT Indonesia Pondasi Raya Tbk. (IDPR) mencetak imbal keuntungan tertinggi sebesar 58 persen dalam sebulan terakhir.

Posisi Indopora disusul PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Nusa Raya Cipta Tbk. yang menghasilkan imbal masing-masing 40 persen dan 27 persen dalam setahun terakhir. Kinerja dalam sebulan terakhir yang moncer lumayan cukup untuk menghindari kerugian lebih besar. Pasalnya, dalam periode tahun berjalan, kinerja saham delapan emiten konstruksi negatif.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konstruksi New Normal
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top