Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Usai Caplok Tambang Nikel, Harum Energy (HRUM) Terus Jajaki Peluang Diversifikasi

Strategi diversifikasi usaha sudah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu oleh manajemen Harum Energy. Setelah mengakuisisi perusahaan tambang nikel, Harum Energy berniat membuka peluang baru untuk merealisasikan rencana tersebut
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  19:55 WIB
Seorang pekerja berjalan di atas tumpukan batu bara di Indonesia. - Bloomberg/Dadang Tri
Seorang pekerja berjalan di atas tumpukan batu bara di Indonesia. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan batu bara PT Harum Energy Tbk. akan secara aktif menjajaki peluang diversifikasi lini usaha di tengah industri batu bara yang menantang.

Direktur Harum Energy Ray Gunara mengatakan diversifikasi bisnis telah menjadi strategi usaha perseroan sejak beberapa tahun terakhir di samping tetap menggeluti bisnis utama. 

“Belum ada lagi rencana ekspansi komoditas lain dalam waktu dekat, tetapi perusahaan akan terus menjajaki peluang diversifikasi usaha sebagai bagian dari strategi usaha ke depan,” ujar Ray kepada Bisnis, Kamis (4/6/2020).

Sebelumnya, emiten berkode saham HRUM telah memulai tonggak baru dengan berkecimpung di bidang pertambangan nikel. HRUM membeli 68,53 juta saham atau setara dengan 3,22 persen dari seluruh modal yang ditempatkan dalam Nickel Mines Limited. Perusahaan ini terdaftar di Bursa Australia.

Transaksi tersebut dilakukan dengan harga jual beli sebesar 34,26 juta dolar Australia atau setara Rp337,66 miliar (asumsi kurs 1 dolar Australia setara Rp9.854,42).

Nickel Mines memegang kepemilikan 60 persen di proyek Hengjaya Nickel dan Ranger Nickel, keduanya mengoperasikan pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi nickel pig iron (NPI) di Indonesia Morowali Industrial Park.

Di sisi lain, menghadapi tantangan bisnis pasar batu bara di tengah pandemi Covid-19 perseroan membuka opsi untuk merevisi target dan panduan kerja yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini.

Ray mengaku sampai saat ini rencana produksi batubara dan rencana belanja modal perseroan masih belum terdampak pandemi Covid19. Namun, anggaran rencana produksi dan belanja modal tersebut akan dikaji kembali pada akhir semester pertama, dengan mempertimbangkan kondisi pasar pada saat itu.

Untuk diketahui, HRUM mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) 2020 sekitar US$8 juta. Pemenuhan belanja modal berasal dari kas internal. Jumlahnya pun tidak berbeda jauh dengan realisasi capex pada tahun lalu.

Hingga kuartal pertama tahun ini, perseroan telah menyerap US$1,4 juta sehubungan dengan penambahan properti tambang anak usaha PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ)  dan pengeluaran pemeliharaan untuk kapal tunda dan tongkang di PT Layar Lintas Jaya (LLJ).

Selain itu, HRUM menargetkan produksi batu bara naik sekitar 5-10 persen daripada realisasi produksi pada tahun lalu, atau sekitar 4 juta ton pada tahun ini. Per 31 Maret 2020, perseroan memproduksi 0,9 juta ton, turun 14,3 persen daripada kuartal IV/2019.  Sementara itu, volume penjualan batu bara kuartal pertama 2020 adalah 1 juta ton, 6,9 persen lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara harum energy tbk
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top