Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa Eropa Makin Kuat pada Awal Perdagangan, Harga Minyak Turun

Kabar soal stimulus fiskal terbaru dari Eropa mendorong penguatan bursa Eropa dan Asia pada perdagangan Kamis (28/5/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  15:38 WIB
Bursa Efek Frankfurt. - Bloomberg/Alex Kraus
Bursa Efek Frankfurt. - Bloomberg/Alex Kraus

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa berhasil menguat bersama bursa Asia pada perdagangan Kamis (28/5/2020) siang, saat kabar soal stimulus fiskal terbaru dari Eropa mengalahkan friksi antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 dan indeks MSCI Asia Pacific sama-sama menguat 0,7 persen pukul 08.23 pagi waktu London (pukul 14.23 WIB).

Pada saat yang sama, indeks MSCI Emerging Market turun 0,1 persen dan kontrak berjangka indeks S&P 500 AS naik 0,1 persen.

Indeks Stoxx Europe 600 dibuka di zona hijau untuk perdagangan hari keempat beruntun setelah Uni Eropa meluncurkan pengeluaran senilai total 2,4 triliun euro (US$2,6 triliun) untuk melawan dampak pandemi virus corona.

Di sisi lain, kontrak berjangka indeks S&P 500 berfluktuasi setelah para anggota parlemen China menentang Presiden AS Donald Trump dengan menyetujui proposal untuk UU keamanan nasional baru di Hong Kong.

Adapun kontrak berjangka Nasdaq 100 tergelincir menyusul laporan bahwa Trump sedang bersiap untuk menandatangani perintah eksekutif yang dapat menghukum perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka karena cara mereka memoderasi konten pada situs-situs mereka.

Indeks Hang Seng Hong Kong pun bergerak di kisaran level terendah sejak Maret 2020, setelah AS menyatakan tidak dapat lagi memastikan otonomi politik Hong Kong dari China. Keputusan itu dapat membuka peluang dijatuhkannya sanksi dan konsekuensi lain terhadap China maupun Hong Kong, mulai dari pembatasan visa, pembekuan aset para pejabat tinggi China, hingga penerapan tarif atas barang-barang yang datang dari Hong Kong.

Tetap saja, sebagian besar indeks saham di Asia mampu menguat pada siang ini. Saham-saham global diperdagangkan di kisaran level terkuatnya sejak awal Maret 2020, di tengah harapan bahwa ekonomi tengah dalam keadaan membaik seiring dengan melonggarnya lockdown di banyak negara.

Meski angka kematian akibat Covid-19 di AS telah menembus 100.000 orang, bursa saham AS justru memperpanjang reli pada perdagangan Rabu (27/5), setelah Presiden Federal Reserve St. Louis James Bullard berpendapat ekonomi mungkin telah mencapai titik terendahnya.

“Saya pikir April kemungkinan besar adalah bulan terburuk karena saat itulah Anda semua melihat perintah penutupan di banyak yuridiksi dan masyarakat tinggal di rumah dengan tingkat tertinggi,” ucap Bullard kepada wartawan sebelum rilis Beige Book.

“Bisa jadi kita telah melihat yang terburuk dari hal ini,” tambahnya, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Seiring dengan pergerakan bursa saham, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun tajam ke bawah level US$32 per barel setelah rilis laporan industri di AS membangkitkan kekhawatiran tentang kelebihan suplai.

Harga minyak WTI kontrak Juli 2020 terpantau anjlok 2,8 persen atau 0,92 poin ke level US$31,89 per barel pukul 14.59 WIB, sedangkan minyak Brent melemah 2,04 persen atau 0,71 poin ke US$34,03 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Harga Minyak bursa eropa
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top