Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Ambil Kesempatan Dalam Pelemahan Harga Minyak

Sedikitnya terdapat tiga sektor yang akan mendapatkan keuntungan di tengah pelemahan harga minyak, yaitu industri petrokimia, otomotif, dan sektor industri berbasis pembangkit listrik.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 April 2020  |  06:10 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup signifikan dapat dijadikan momentum bagi beberapa emiten untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik.

Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk. Agus Salim Pangestu mengatakan bahwa penurunan harga minyak berpotensi memperbaiki kinerja keuangan perseroan.

Apalagi, terhadap entitas anak usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) karena harga bahan baku, naphta yang juga ikut turun sehingga ongkos produksi menjadi lebih murah.

“Tentu [kinerja] akan lebih baik, tapi situasi belum stabil. Semua fokus tuntaskan Covid-19 dulu,” ujar Agus kepada Bisnis.com, Rabu (29/4/2020).

Agus pun menjelaskan pihaknya tidak dapat memberikan proyeksi apapun terhadap kinerja seiring dengan pandemi Covid-19 yang membuat keadaan sulit untuk ditebak.

Adapun, pada tahun lalu kinerja TPIA telah menjadi penekan kinerja perseroan seiring dengan tren pelemahan bisnis petrokimia dan fluktuasi harga minyak. Namun, penurunan itu berhasil diimbangi oleh kinerja Star Energy yang membukukan kinerja positif pada tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan 2019, perseroan membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2019 sebesar US$42,43 juta, lebih rendah 39,4 persen dibandingkan dengan perolehan pada 2018 sebesar US$72,22 juta.

Sebelumnya dalam kesempatan terpisah, Agus sempat mengatakan bahwa BRPT terus menggenjot kontribusi pendapat Star Energy di tengah fluktuasi bisnis petrokimia yang sangat dipengaruhi kondisi global.

Perseroan juga menerapkan program efisiensi untuk meningkatkan produksi, pengurangan pemakaian energi, dan pengurangan biaya operasi per unit.

“Kalau efisiensi, saya rasa Chandra Asri sudah cukup gold standard. Bentuk antisipasi kami dengan adanya downtrend dari bisnis petrokimia, maka kami pun sudah cadangkan likuiditas yang cukup besar,” ujar Agus.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Panca Budi Idaman Tbk. Lukman Hakim mengatakan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia akan berpengaruh terhadap harga bahan baku perseroan sehingga tentu akan menekan beban pendapatan perseroan.

Untuk diketahui, emiten plastik berkode saham PBID itu mencatatkan penjualan bersih sepanjang 2019 sebesar Rp4,63 triliun, naik 6,42 persen secara year on year. Kendati demikian, kenaikan pendapatan berbanding terbalik dengan laba perseroan yang tercatat turun.

Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk pada 2019 sebesar Rp223,62 miliar atau turun 24,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp297,62 miliar.

Beban pokok penjualan PBID terpantau naik 8,38 persen menjadi Rp4,03 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,77 triliun.

Adapun, komponen minyak dan gas berkontribusi sebesar 85 persen hingga 88 persen dari cost of good sold (COGS) perseroan. Dengan demikian, di tengah pelemahan harga minyak saat ini profitabilitas perseroan berpotensi menjadi lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Namun, seberapa besar peningkatan margin tahun ini, kami masih akan melakukan monitoring lebih seksama terlebih dahulu terhadap permintaan dan kondisi pasar saat ini yang sulit diprediksi,” ujar Lukman.

Sepanjang tahun berjalan 2020 harga minyak telah terkoreksi hingga 77,24 persen. Pada pertengahan April, harga minyak berjangka untuk kontrak pengiriman Mei 2020 sempat diperdagangkan di area negatif, yaitu di level -US$34 per barel.

Adapun, pada perdagangan Rabu (29/4/2020) hingga pukul 17.35 WIB, harga minyak WTI untuk kontrak Juni 2020 di bursa Nymex berada di level US$14,16 per barel menguat 14,75 persen, sedangkan harga minyak Brent kontrak Juni 2020 di bursa ICE naik 4,89 persen ke level US$21,46 per barel.

Dia menjelaskan penurunan harga minyak hingga ke bawah level US$30 per barel mungkin baru akan terasa pada pertengahan kuartal kedua tahun ini. Hal itu disebabkan, pembelian bahan baku dibeli beberapa bulan sebelum produksi dan tergantung dengan jumlah persediaan saat itu.

Di tengah sentimen tersebut, PBID mempertahankan target dan panduan perseroan yang telah ditentukan pada awal tahun ini. Perseroan mengalokasi capital expenditure atau Capex sebesar Rp100 miliar dan target produksi 121.000 ton per tahun.

Dengan fokus memproduksi plastic food grade untuk wilayah pasar Jabodetabek, perseroan juga menilai industri yang digeluti masih akan bertumbuh dengan target peningkatan pendapatan sebesar 10 persen pada tahun ini.

SVP Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan sedikitnya terdapat tiga sektor yang akan mendapatkan keuntungan di tengah pelemahan harga minyak, yaitu industri petrokimia, otomotif, dan sektor industri berbasis pembangkit listrik.

Dia menjelaskan, sebesar 70 persen komponen industri petrokimia terdiri atas minyak impor sehingga penurunan harga minyak akan menjadi berkah bagi emiten-emiten petrokimia seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

Untuk industri pembangkit listrik yang juga memiliki sekitar 70 persen komponen biaya produksinya terdiri atas minyak impor pun akan mendapatkan manfaat dari pelemahan harga minyak dunia.

Selain itu, sektor otomotif juga akan ikut terdampak, apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang akan mendorong permintaan kendaraan moda pribadi untuk menghindari penyebaran virus sehingga akhirnya bisa menguntungkan PT Astra International Tbk. (ASII).

Adapun, dia menjelaskan secara garis besar semua sektor sesungguhnya akan mengalami perlambatan pendapatan pada tahun ini akibat sentimen pandemi Covid-19.

Bahkan, Janson mengatakan bahwa mayoritas emiten akan mengalami penurunan pendapatan yang tajam pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

“Namun, khusus untuk ketiga sektor itu, setidaknya penurunan minyak dan penurunan pajak corporate dari 25 persen ke 20 persen bisa menahan penurunan pendapatan yang tajam pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini,” ujar.

Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan bahwa penurunan harga minyak dunia berpeluang membuat emiten-emiten di sektor manufaktur, transportasi, dan petrokimia memperbaiki kinerjanya.

Pasalnya, ongkos produksi emiten tersebut yang mayoritas menggunakan bahan baku minyak juga akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Namun, emiten itu tidak serta merta akan terlepas dari risiko pembukuan kinerja yang buruk meskipun dibantu pelemahan harga minyak mentah dunia.

“Yang masih meragukan adalah sisi permintaan, walau ongkos turun seperti transportasi, tetapi tidak banyak penjualan karena permintaan juga turun,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak barito pacific chandra asri Panca Budi Idaman
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top