Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Melemah, Emiten di Sektor Ini Dapat Berkah

Sektor yang mendapat benefit dari penurunan harga minyak adalah petrokimia, otomotif, dan sektor industri berbasis pembangkit listrik.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 April 2020  |  19:33 WIB
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Di balik rendahnya harga minyak, ada sejumlah emiten yang dinilai berpeluang mendapatkan keuntungan sehingga bisa mendongkrak kinerja keuangannya.

SVP Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan sedikitnya terdapat tiga sektor yang akan mendapatkan keuntungan di tengah pelemahan harga minyak, yaitu industri petrokimia, otomotif, dan sektor industri berbasis pembangkit listrik.

Dia menjelaskan, sebesar 70 persen komponen industri petrokimia terdiri atas minyak impor sehingga penurunan harga minyak akan menjadi berkah bagi emiten-emiten petrokimia seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

Untuk industri pembangkit listrik yang juga memiliki sekitar 70 persen komponen biaya produksinya terdiri atas minyak impor pun akan mendapatkan manfaat dari pelemahan harga minyak dunia.

Selain itu, sektor otomotif juga akan ikut terdampak, apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang akan mendorong permintaan kendaraan moda pribadi untuk menghindari penyebaran virus sehingga akhirnya bisa menguntungkan PT Astra International Tbk. (ASII).

Adapun, dia menjelaskan secara garis besar semua sektor sesungguhnya akan mengalami perlambatan pendapatan pada tahun ini akibat sentimen pandemi Covid-19. 

Bahkan, Janson mengatakan bahwa mayoritas emiten akan mengalami penurunan pendapatan yang tajam pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

“Namun, khusus untuk ketiga sektor itu, setidaknya penurunan minyak dan penurunan pajak corporate dari 25 persen ke 20 persen bisa menahan penurunan pendapatan yang tajam pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini,” ujar Janson kepada Bisnis, Rabu (29/4/2020).Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan bahwa penurunan harga minyak dunia berpeluang membuat emiten-emiten di sektor manufaktur, transportasi, dan petrokimia memperbaiki kinerjanya.

Pasalnya, ongkos produksi emiten tersebut yang mayoritas menggunakan bahan baku minyak juga akan menjadi lebih murah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Namun, emiten itu tidak serta merta akan terlepas dari risiko pembukuan kinerja yang buruk meskipun dibantu pelemahan harga minyak mentah dunia.

“Yang masih meragukan adalah sisi permintaan, walau ongkos turun seperti transportasi, tetapi tidak banyak penjualan karena permintaan juga turun,” ujar Frederik saat dihubungi Bisnis, Rabu (29/4/2020).

Untuk diketahui, sepanjang tahun berjalan 2020 harga minyak telah terkoreksi hingga 77,24 persen. Pada pertengahan April, harga minyak berjangka untuk kontrak pengiriman Mei 2020 sempat diperdagangkan di area negatif, yaitu di level -US$34 per barel.

Adapun, pada perdagangan Rabu (29/4/2020) hingga pukul 19.09 WIB, harga minyak WTI untuk kontrak Juni 2020 di bursa Nymex berada di level US$14,25 per barel menguat 15,48 persen, sedangkan harga minyak Brent kontrak Juni 2020 di bursa ICE naik 4,59 persen ke level US$21,40 per barel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top