Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data AS Jeblok, Bursa Asia Melemah

Bursa saham global mulai dari Sydney hingga Seoul terpantau ikut melemah, meskipun penurunan lebih dangkal daripada yang terlihat di AS semalam.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 16 April 2020  |  08:05 WIB
Data AS Jeblok, Bursa Asia Melemah
Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA — Saham Asia turun setelah sesi pelemahan mendera Wall Street, akibat data ritel, manufaktur, dan pembangunan yang kembali suram menambah kekhawatiran tentang resesi parah AS. Di sisi lain harga minyak stabil mendekati level terendah dalam dua dekade.
 
Bursa saham global mulai dari Sydney hingga Seoul terpantau ikut melemah, meskipun penurunan lebih dangkal daripada yang terlihat di AS semalam. S&P 500 juga tergelincir setelah indeks melemah lebih dari dari 2 persen pada Rabu (15/4/2020), ketika semua sektor utama turun. 
 
Saham sektor finansial merosot ketika portofolio investasi Goldman Sachs Group Inc. terpukul pandemi coronavirus. Bank of America Corp dan Citigroup Inc. mengikuti saingannya dalam menyisihkan miliaran untuk kerugian pinjaman. 
 
Dalam waktu yang sama US Treasury menahan kenaikan mereka, sedangkan dolar terus merangkak naik.
 
Baik laporan pendapatan perusahaan maupun data ekonomi menyoroti dampak parah dari economy shutdown yang dirancang untuk memerangi penyebaran virus corona. 
 
Penjualan ritel AS dan output pabrik mencatat penurunan bersejarah pada bulan Maret dan proyeksi untuk bulan April tak lebih baik. Data manufaktur di negara bagian New York dan sentimen di antara para pembangun rumah Amerika turut anjlok.
 
Global Credit Chief Investment Officer Pacific Investment Management Co. Mark Kiesel mengatakan pihaknya tak dapat memprediksi bagaimana perekonomian pada tahun depan karena banyaknya ketidakpastian terkait pandemi.
 
“Kita belum benar-benar melalui ini, kemungkinan ada gelombang kedua [pandemi]," imbuhnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/4/2020)
 
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS telah melewati puncak pandemi, mengacu pada data kasus-kasus baru. Dia juga akan mengumumkan pedoman “diam di rumah sambil bersantai”. 
 
Langkah tersebut baru diambil ketika Covid-19 kini telah menginfeksi 2 juta orang secara global, dengan kematian di seluruh dunia mencapai 133.000.
 
Di sisi lain, harga minyak naik lebih tinggi setelah jatuh pada perdagangan sebelumnya, di tengah rekor penurunan permintaan bahan bakar dan peningkatan terbesar mingguan pasokan minyak mentah domestik. Peso Meksiko mundur setelah Fitch menurunkan peringkat utang negara.
 
 
Berikut ringkasan pasar:
Saham
  - Futures pada S&P 500 turun 0,6% pada 9:01 di Tokyo. Indeks yang mendasarinya turun 2,2% pada hari Rabu.
  - Indeks Topix Jepang turun 1,3%.
  - Kospi Korea Selatan kehilangan 0,7%.
   -Indeks S & P / ASX 200 Australia merosot 0,9%.
 
Mata uang
    -Euro berada di level US$1,0904, sedikit berubah dari perdagangan sebelumnya.
    - Yen turun 0,1% menjadi 107,63 per dolar.
    -Yuan lepas pantai diperdagangkan flat pada 7,0705 per dolar.
 
Obligasi
   - Imbal hasil pada obligasi 10-tahun tetap di 0,63%.
   - Imbal hasil 10-tahun Australia menurun sekitar 8 basis poin menjadi 0,84%.
 
Komoditas
   - Minyak mentah West Texas Intermediate bertambah 2,3% menjadi US$20,33 per barel.
   -Emas berada di US$ 1,716.21 per ounce, sedikit berubah dibandingkan hari sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia emas Harga Minyak pasar saham
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top