Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

​Meski Kinerja Tertekan, Reksa Dana Dolar Masih Punya Kelebihan

Selisih kurs menjadi salah satu keuntungan yang bisa didapat investor dari produk reksa dana berbasis dolar.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  08:34 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Proyeksi produk kinerja reksa dana berdenominasi dolar ikut tersungkur bersama pelemahan pasar beberapa waktu belakangan. Namun, reksa dana berbasis greenback dinilai tetap punya sejumlah kelebihan.

Awal tahun ini, reksa dana berdenominasi dolar AS diprediksi bakal mencatatkan kinerja positif. Adapun produk reksa dana saham dinilai akan menjadi produk dengan imbal hasil tertinggi dibandingkan produk sejenis lainnya yang berbasis greenback.

Sejumlah faktor disebut akan berkontribusi, mulai dari suku bunga The Fed yang flat, meredanya sentimen perang dagang global, dan penambahan suplai obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Namun, proyeksi itu ternyata hanya bertahan sekejap mata. Pasar global diuji dengan wabah corona atau Covid-19 yang berbuntut pada terancamnya kestabilan ekonomi dunia yang membuat investor berbondong-bondong melepaskan aset berisiko mereka.

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan tendensi investor untuk mencari pegangan paling aman di tengah ketidakpastian global membuat aksi jual dilakukan besar-besaran,termasuk di pasar Indonesia.

“[Reksa dana berdenominasi dolar] Jenis saham pasti hancur, pendapatan tetap mulai negatif juga karena investor asing jualan saham dan jualan obligasi,” katanya saat dihubungi Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, mayoritas reksa dana dolar di Indonesia mengandalkan surat utang negara yang berbasis dolar, sehingga saat investor melakukan aksi jual, yield obligasi akan naik dan harganya menjadi turun. 

“Karena dilepas terus gitu. [Reksa dana berbasis] dolar akan lebih terasa [penurunannya] meski yield obligasi dolar lebih kecil. Secara presentase akan lebih berasa,” tambahnya.

Namun, ujar Wawan, jika berasumsi kebutuhan akhir investor adalah dana dalam bentuk rupiah,masih ada potensi cuan yang mungkin didapat karena tertolong oleh selisih kurs rupiah terhadap dolar AS. 

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto juga menyebut secara dana kelolaan produk reksa dana dolar juga ikut menyusut. Pihaknya bahkan menyebut penurunan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana dolar mencapai 13,78 persen secara year to date

Akan tetapi, senada dengan Wawan, Rudiyanto mengatakan reksa dana dolar masih untung secara kurs. “Untuk kursnya kan dihitung masing-masing, dia bisa tukar di harga berapa aja,” tambahnya.

Rudiyanto mengatakan penurunan yang terjadi saat ini merupakan kondisi force major. Apalagi wabah di Indonesia baru mulai dan masih menuju titik puncak sehingga menjadi sentimen penekan untuk hampir semua jenis instrumen.

Dia optimistis semua akan rebound ketika pandemi telah berlalu. Bahkan, menurutnya valuasi yang sudah murah seperti saat ini dapat dimanfaatkan untuk mulai melakukan pembelian bertahap mengingat potensi rebound yang cukup tinggi.

“Kesempatan jarang-jarang lah, meski memang butuh mentalitas juga karena kita masih mengira-ngira turunnya akan seberapa besar lagi,” tambah Rudiyanto.

Direktur Utama Danareksa Investment Management Marsangap P. Tamba mengatakan reksa dana dolar memberikan fleksibilitas lebih besar bagi fund manager untuk mendiversifikasi alokasi investasinya.

Dia mencontohkan reksa dana dolar berjenis saham syariah yang banyak ditaruh di pasar global. Di tengah kondisi kekhawatiran akibat pandemi ini, fund manager dapat melakukan rebalancing portofolionya dengan mengalihkan investasi ke negara yang pasarnya mulai pulih dari tekanan wabah.

Sementara untuk yang berjenis pendapatan tetap, Marsangap mengatakan kondisinya masih sangat tergantung perkembangan kebijakan situasi fiskal, apakah akan ada stimulus lanjutan yang menguntungkan pasar obligasi. Meski memang diprediksi potensinya tak akan sebesar tahun lalu.

At the end ini kan crisis. Jadi mungkin net-nya—kalau stimulus ini berjalan—reksa dana dolar atau rupiah juga malah benefit dari saham. Karena in terms of recovery, equity ini akan terbang duluan biasanya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as reksa dana Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top