Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Berpeluang Melemah, Simak Ulasan Pilarmas Investindo

Pada penutupan perdagangan hari terakhir, Jumat (27/03/2020), IHSG ditutup menguat 206 poin atau 4,76 persen menjadi 4.545.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  09:16 WIB
Karyawan menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (26/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Karyawan menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (26/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Berdasarkan analisis teknikal, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan hari ini, Senin (30/3/2020).

Pada penutupan perdagangan hari terakhir, Jumat (27/03/2020), IHSG ditutup menguat 206 poin atau 4,76 persen menjadi 4.545.

Berdasarkan catatan PT Pilarmas Investindo Sekuritas, sektor aneka industri, properti, industri dasar, keuangan, barang konsumsi, infrastruktur, agrikultur, perdagangan dan pertambangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan tersebut.

Pada perdagangan tersebut Investor asing membukukan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp221 miliar. Namun, berdasarkan analisis teknikal IHSG berpeluang melemah ke kisaran 4.300-an pada hari ini.

“Berdasarkan analisa teknikal kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan di-trading-kan pada level 4.357—4.716,” tertulis dalam riset, dikutip pada Senin (30/3/2020).

Adapun, beberapa insentif yang akan memengaruhi perdagangan hari ini di antaranya adalah langkah pemerintah Jepang dalam menanggulangi wabah COVID-19. Meski tingkat kematian ataupun jumlah pasien di negara ini tidak terlalu tinggi, namun dampaknya terhadap sektor keuangan cukup besar.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah krisis. Stimulus fiskal, moneter, dan pajak disiapkan untuk tetap menjaga daya beli masyarakat agar tidak terjadi deflasi.

Selain itu, dari Amerika Serikat, langkah Presiden Donald Trump yang menandatangani stimulus ekonomi senilai US$2 triliun dinilai belum cukup untuk mengantisipasi dampak negatif dari wabah virus corona. Pasalnya jumlah pasien virus corona terus meningkat dan menekan laju pertumbuhan negara tersebut.

Dari sesama negara Asia lainnya, India, langkah pemerintahnya dalam menghadapi virus corona akan turut memengaruhi perhitungan para investor. Selain memangkas suku bunga, India juga telah memberikan simulus seniali 1,7 triliun rupee. Diperkirakan, India masih memiliki amunisi lainnya untuk mempertahankan ekonomi di tengah krisis ini.

Adapun, dari dalam negeri perjuangan melawan virus corona juga masih akan menjadi penentu arah pasar finansial ke depan. Wacana lockdown atau karantina wilayah kian menjadi hal yang dinantikan oleh para pelaku pasar.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, pengendalian penyebaran virus ini merupakan hal mendasar yang harus segera diselesaikan sebelum menentukan stimulus fiskal maupun moneter.

“Menurut kami, wabah tersebut harus bisa dikendalikan terlebih dahulu penyebarannya, barulah bisa mengeluarkan stimulus baik fiscal maupun moneter, sama seperti yang dilakukan oleh China. Recovery yang terjadi bisa lebih cepat,” dikutip dari riset.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG ekonomi global
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top