Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dolar AS Terkoreksi Akibat Pembahasan RUU Stimulus US$2 Triliun

Indeks dolar turun 0,81 persen menjadi 101,87. Sterling melonjak 1,33 persen menjadi 1,1913 dolar. Euro menguat 0,91 persen terhadap greenback menjadi 1,0885 dolar.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  05:58 WIB
Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar - wsj.
Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (18/3) hingga pukul 10.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah 140 poin atau 0,93 persen ke posisi Rp15.223 per dolar AS. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar - wsj.

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar AS jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) seiring dengan rancangan undang-undang stimulus US$2 triliun dapat meningkatkan risiko, dan mengurangi permintaan terhadap mata uang safe haven itu.

Indeks dolar turun 0,81 persen menjadi 101,87. Sterling melonjak 1,33 persen menjadi 1,1913 dolar. Euro menguat 0,91 persen terhadap greenback menjadi 1,0885 dolar.

Saham-saham melonjak untuk hari kedua ketika para senator AS memberikan suara untuk paket legislasi bipartisan guna mengurangi dampak ekonomi yang merusak dari pandemi virus corona. Mereka berharap akan menjadi undang-undang dengan cepat.

Investor juga kemungkinan mengurangi eksposur terhadap dolar menjelang rilis data klaim pengangguran pada Kamis (26/3/2020). Data ini diperkirakan akan menunjukkan lonjakan orang yang mengajukan tunjangan, karena banyak tutup di seluruh negeri dalam upaya mengekang penyebaran virus.

Klaim pengangguran pada Kamis diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar satu juta, dari 281.000 minggu sebelumnya, menurut perkiraan median dari jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

"Perkembangan hari ini adalah alasan yang baik untuk mengecilkan taruhan bullish pada dolar," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, di Washington. "Tetapi sentimen masih positif (untuk dolar) karena ketidakpastian tetap tinggi tentang kerusakan ekonomi dari virus."

Gubernur New York pada Rabu (25/3/2020) mengatakan ada tanda-tanda tentatif bahwa pembatasan memperlambat penyebaran virus corona di negara bagiannya. Bahkan ketika krisis kesehatan masyarakat semakin dalam di New Orleans yang terpukul keras dan bagian lain dari Amerika Serikat.

Mata uang tunggal juga didorong setelah majelis rendah Jerman pada Rabu (25/3) menyetujui paket stimulus besar-besaran oleh pemerintah Kanselir Angela Merkel.

Ekonomi Jerman dapat berkontraksi sebanyak 20 persen tahun ini karena dampak dari virus corona, seorang ekonom Ifo mengatakan pada Rabu (25/3/2020), ketika kepercayaan bisnis Jerman jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan global pada 2009.

Investor juga terus mencerna pengumuman Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Senin (23/3/2020) bahwa mereka akan meluncurkan pelonggaran kuantitatif (QE) tanpa batas, dan bagaimana hal itu akan berdampak pada greenback.

“QE pertama kali diperkenalkan kembali pada 2008, dolar pada awalnya melemah tetapi kemudian pulih ke level yang lebih kuat. Kami percaya bahwa dinamika kemungkinan akan terungkap sekarang,” kata Win Thin, kepala strategi mata uang global di Brown Brothers Harriman di New York.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as kurs dolar

Sumber : Antara

Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top