Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wall Street Anjlok 12 Persen, Terdalam Sejak 1987

Investor tetap cemas kendati bank sentral di seluruh dunia mengeluarkan banyak stimulus.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  04:52 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA --Bursa Amerika Serikat (AS) babak belur. Bursa saham terjun 12 persen, terbesar seja 1987 seiring peringatan Presiden Donald Trump terkait gangguan ekonomi akibat virus corona (covid-19) bisa berlangsung hingga musim panas.

Dilansir dari Bloomberg, indeks S&P 500 turun 12 persen ke level 2.386,13 sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) juga terkoreksi 12,93 persen ke level 20.188,52. Adapun Nasdaq Composite Index (CCMP) terjerembab 12,32 persen ke level6.904,59.

Imbal hasil ketiga indeks itu dalam satu tahun terakhir telah negatif lebih dari 10 persen.Kejatuhan bursa AS pada perdagangan Senin (16/3/2020) membuat indeks S&P telah turun 30 persen dari rekor tertinggi. DJIA juga mencetak rekor terendah dalam dua tahun terakhir.

Bursa AS jatuh karena Trump menyebut perekonomian bisa terseret ke dalam resesi. Sejak pembukaan perdagangan Senin (16/3/2020) waktu setempat, pasar saham sudah dibuka dengan koreksi tajam sebesar 9 persen setelah bank sentral di seluruh dunia gagal untuk menenangkan investor yang khawatir virus corona bakal menilbulkan dampak besar terhadap perekonomian.

"Ini berbeda. Hal yang lebih menyeramkan dari itu adalah Anda belum pernah berada dalam skenario di mana Anda mematikan seluruh perekonomian, "kata Steve Chiavarone, manajer portofolio Federated Investors seperti dikutip dari Bloomberg.

"Perut Anda merasakan sesuatu yang kita tidak bisa mengukur lalu pasar bisa jatuh lebih banyak," tambahnya.

Di saat The Fed telah memangkas suku bunga mendekati nol dan meningkatkan pembelian obligasi, investor menuntut paket stimulus besar-besaran untuk mengimbangi kerugian dari penutupan sekolah, restoran, bioskop, dan pertandingan olahraga. Perusahaan di seluruh dunia telah mengurangi kegiatan untuk mengakomodasi tuntutan pemerintah untuk membatasi interaksi sosial.

Sebelumnya, Bursa Asia dan Eropa juga anjlok seiring penemuan kasus baru di luar China hingga beberapa negara menerapkan kebijakan lockdown.

Bursa saham Eropa ditutup merosot ke level terendah dalam lebih dari tujuh tahun teakhir menyusul kekhawatiran atas tekanan ekonomi akibat penyebaran virus Corona.

Kemarin, Senin (16/2/2020), Indeks Stoxx ditutup melemah 4,86 persen atau 14,53 poin ke level 284,63. Sejak Februari 2020, Indeks Stoxx telah anjlok 34 persen. Sementara itu Indeks Topik Jepang dan Indeks Hang Seng Hong Kong juga terkoreksi masing-masing 2,01 persen dan 4,03 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as Kebijakan The Fed Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top