Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Makin Terpuruk, Tiga Indeks Utama Wall Street Anjlok 9 Persen Lebih

Bursa saham Amerika Serikat berakhir anjlok pada perdagangan hari ini, Kamis (12/3/2020), dengan indeks Dow Jones merosot hingga 10 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Maret 2020  |  06:01 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat berakhir anjlok pada perdagangan hari ini, Kamis (12/3/2020), dengan indeks Dow Jones merosot hingga 10 persen.

Pasar terpuruk di tengah aksi jual terbesar sejak peristiwa Black Monday tahun 1987 silam. Indeks DowJ Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 9,99 persen atau 2.352,6 poin ke level 21.200,62, setelah dibuka melemah 5,81 persen atau 1.368,51 poin ke level 22.184,71.

Tak jauh berbeda, indeks S&P 500 ditutup anjlok 9,51 persen atau 269,74 poin ke level 2.480,64 setelah dibuka melemah 4,03 persen. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melemah 9,43 persen atau 750,25 poin ke posisi 7.201,80.

S&P 500 anjlok 27 persen di bawah rekor yang dicapai tiga pekan lalu dan menghapus semua penguatan sejak akhir 2018. Di Eropa, indeks Stoxx Europe 600 mencatat pelemahan terburuk dalam sejarah. Ibovespa Brasil jatuh sebanyak 20 persen, memperpanjang kerugian tahun ini hingga hampir 50 persen. Adapun indeks utama Kanada turun lebih dari 12 persen, hari terburuk sejak 1940.

Dilansir Bloomberg, Presiden Donald Trump akhirnya menawarkan beberapa upaya stimulus fiskal, tetapi langkah-langkah tersebut direspon datar. Bank Sentral Eropa mengambil kebijakan memperdalam pelonggaran kuantitatifnya serta meningkatkan likuiditas, namun aksi jual justru semakin dalam.

Bahkan rencana yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Federal Reserve untuk membeli obligasi senilai US 5 triliun tidak dapat meredakan kekhawatiran investor yang bingung dengan meningkatnya kemungkinan bahwa virus corona (Covid-19) akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi.

Perdagangan Kamis menandai manifestasi terbesar dari bagaimana pukulan dari Covid-19 dan dan perang harga minyak menghancurkan prospek pertumbuhan global dan memicu kegelisahan di seluruh dunia.

Saat ini investor mencoba menebak efektivitas upaya pembuat kebijakan untuk membatasi kerusakan ekonomi, dengan larangan perjalanan Trump dan langkah-langkah fiskal gagal menarik investor. Sentimen semakin teredam oleh larangan pertemuan publik di AS dan penghentian liga olahraga profesional di sejumlah negara.

“Pasar sepertinya membutuhkan lebih banyak. Lebih banyak inovasi dari bank sentral, lebih banyak bantuan yang ditargetkan untuk bagian ekonomi yang paling rentan , serta tindakan dari otoritas fiskal untuk menghentikan guncangan agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih lama, ”kata Seema Shah, analis investasi global Principal Global Investor, seperti dikutip Bloomberg.

Lebih banyak berita buruk tentang dampak Covid-19 muncul sepanjang hari. Pejabat urusan penyakit menular AS terkemuka mengatakan sistem pengujian di negara itu "gagal." Sementara itu, Uni Eropa memperingatkan bahwa penyakit tersebut mengancam melebihi kemampuan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah dalam beberapa minggu atau bahkan hari ke depan.

Sementara itu, National Hockey League mengikuti jejak National Basketball Association yang menghentikan kompetisi, sementara Major League Baseball mengatakan hari pembukaan akan ditunda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as dow jones bursa global
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top