Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Makin Cemas terhadap Virus Corona, Bursa AS Rontok

Aksi obral saham terjadi investor semakin khawatir penyebaran virus corona bakal berdampak serius terhadap perekonomian global.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  23:02 WIB
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS - Andrew Kelly
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS - Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Amerika Serikat dibuka melemah seiring aksi jual saham oleh investor yang cemas dengan perkembangan terakhir wabah virus corona (covid-19).

Dilansir dari Bloomberg, tiga indeks utama AS dibuka lebih rendah dibandingkan dengan perdagangan kemarin. Pada perdagangan hari ini, Kamis (27/2/2020), indeks S&P 500 turun 0,38 persen ke level 3.116,39.

Dua perusahaan pengelola kapal pesiar, Royal Carribbean Cruise Ltd dan Norwegian Cruise Line Holding memimpin pelemahan indeks. Saham Expedia Group Inc dan Macy's Inc juga turut menjadi penekan indeks hingga 21.31 WIB atau 09.31 Waktu New York.

Dua indeks utama lainnya, yaitu Dow Jones Industira Average (DJIA) dan Nasdaq Composite Index (CCMP) juga parkir di zona merah. Hingga 10.40 WIB, DJIA terkoeksi 3,32 persen ke level 26.063,41 sedangkan CCMP juga terkulai 3,71 persen ke leval 8.647,70.

Di sisi lain, MSCI World Index juga turun di hari keenam secara berturut-turut dan Stoxx Europe 600 juga memasuki koreksi. Ahli Strategi dari Goldman Sachs menulis, mereka memperkirakan tidak ada pertumbuhan laba untuk perusahaan Amerika Serika di tahun ini saat skenario virus corona dimasukkan dalam model pendapatan.

"Cara pasar turun ini terjadi cukup cepat, tetapi sulit untuk mengatakan ini sudah berakhir," ujar Sameer Samana, senior global market strategist Wells Fargo Investment Institute seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/2/2020).

Di saat pasar saham terguncang, investor memburu aset yang memiliki risiko lebih rendah, atau disebut aset aman (safe haven). Mata uang Yen terus menguat karena imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mencapai rekor terendah baru.

Investor tengah berhitung dalam skenario pelonggaran Federal Reserve AS pada April 2020 dan berlanjut pada penurunan suku bunga penuh pada Juli 2020. Investor juga tengah bertaruh, apakah stimulus juga akan diberikan oleh Bank Sentral Jepang di tengah pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetery Fund (IMF).

Kerugian akan terus bertambah karena investor selalu menimbang setiap judul pemberitaan terkait virus corona. Otoritas Kesehatan AS kemarin mengatakan mereka menemukan kasus pertama yang tidak memiliki kaitan dengan wabah yang diketahui.

"Faktanya adalah bukah hanya belum ada tanda dari patogen terkandung, tapi sekarang kita menghadapi momok penyebaran [virus corona] melalui AS dan in iakan terus membebani prospek makro global dalam beberapa bulan mendatang," tulis Simon Ballard, Kepala Ekonom First Abu Dhabi Bank.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia bursa as Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top