Menteri BUMN Targetkan Holding RS Rampung 2020, Berikut Skemanya

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa konsolidasi ini akan diawali dengan pendapatan sebesar Rp5,6 triliun dan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) sebesar Rp510 miliar.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  03:32 WIB
Menteri BUMN Targetkan Holding RS Rampung 2020, Berikut Skemanya
Klinik Eksekutif Heritage RS Pelni Jakarta. - prime.rspelni.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Pembentukan holding Rumah Sakit di bawah naungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dijadwalkan akan selesai pada akhir tahun ini melalui tiga fase yang akan dimulai dalam waktu dekat.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa konsolidasi ini akan diawali dengan pendapatan sebesar Rp5,6 triliun dan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) sebesar Rp510 miliar.

“Kalau secara revenue diawali dengan Rp5,6 triliun, dengan EBITDA Rp510 miliar. Tapi, ini kan belum konsolidasi dan maksimal, ke depan diharapkan bisa kurang lebih Rp8 triliun [revenue],” katanya, Senin (10/2/2020).

Dia mengatakan dengan konsolidasi ini diharapkan rumah sakit BUMN dapat lebih berfokus di dunia kesehatan. Menurutnya, selama ini RS milik BUMN tidak cukup berfokus pada hal itu karena dimiliki oleh perusahaan yang memiliki fokus bisnis berbeda.

Sebagai sebagai fase awal konsolidasi ini akan melibatkan PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) dengan PT Rumah Sakit Pelni. Tahap selanjutnya, akan diikuti dengan konsolidasi yang melibatkan perusahaan RS milik PTPN, Pelindo, dan lain-lain.

Menurutnya tahapan integrasi operaisonal sudah dapat dilakukan paling lambat pada Juni 2020. Proses ini dapat dilakukan tanpa menunggu proses pelimpahan kepemilikan. Hal ini dilakukan lebih cepat agar pemetaan kebutuhan pengembangan jaringan RS ini bisa lebih cepat.

“Saya rasa, konsolidasi ini Juni sudah berjalan, dan akhir tahun ini sudah bisa konslidasi yang lebih besar lagi, karena tahapnya kan ada fase ke-1, ke-2, dan ke-3,” jelasnya.

Dia menambahkan konsolidasi RS BUMN ini dipastikan bakal memupus rencana RS Pelni untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, perusahaan RS yang tergabung dalam holding tidak dapat lagi melakukan aksi korporasi seperti itu secara individual.

“Tahap satu, Juni ini sudah bisa selesai. Pokoknya kami usahakan semuanya tahun ini. Dengan konsep sekarang [RS Pelni] tidak bisa individu yang go public. Kurang lebih begitu [Pertamedika bisa go public], tapi saya belum bisa bicara ke arah sana,” jelasnya.

Dia mengatakan bahwa tak menutup kemungkinan konsolidasi atau holding RS BUMN ini akan mencari mitra untuk mengembangkan bisnisnya ke depan. Menurutnya, apabila ada peluang pengembangan lapangan kerja dalam jumlah besar hal itu sangat mungkin dilakukan.

Adapun, Erick menjelaskan kepemilikan konsolidasi RS BUMN ini akan dimiliki Kementerian BUMN secara mayoritas. Perusahaan-perusahaan pelat merah akan tetap memiliki saham di sejumlah RS tersebut namun proporsinya akan terdilusi.

“Mayoritas nanti BUMN, masing-masing punya pemiliknya. Core bisnisnya kan holding rumah sakitnya bukan Pertamina-nya, jadi miliknya yang punya saham di rumah sakit, sekarang miliknya holding. Mereka [Perusahaan BUMN] masih punya saham,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamedika Indonesia Healthcare Corporation (IHC) Fathema Djen Rachmat mengatakan konsolidasi fase pertama dengan Rumah Sakit (RS) Pelni sudah memasuki fase transaksi. Fase ini membuat akan mengkonsolidasikan 1.250 tempat tidur dan lima rumah sakit.

Adapun, fase kedua akan dilanjutkan melalui ekspansi dengan integrasi lima perusahaan rumah sakit BUMN lainnya. Fase kedua ini akan membuat integrasi IHC akan terhubung dengan 35 rumah sakit yang memiliki jumlah kamar sebanyak 4.800.

Sementara itu, melalui fase terakhir Pertamedika IHC akan terintegrasi dengan 64 jaringan rumah sakit BUMN yang berada di Indonesia. Secara total, jumlah kamar yang dimiliki holding ini akan mencapai 6.500 kamar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, holding bumn

Editor : Hafiyyan
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top