Pekan Ini IHSG Berpotensi Kembali Terkoreksi

Pada 2 hari terakhir pekan lalu pola candle mengindikasikan adanya penurunan kekuatan naik IHSG.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  06:21 WIB
Pekan Ini IHSG Berpotensi Kembali Terkoreksi
Pengunjung melintas didekat papan elektronik yang menampilkan pergerkan Indeks Harga Saham Gabngan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/2/2020) Binsis - AbdurachmanAbdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bakal kembali terkoreksi pada pekan ini akibat kekhawatiran terhadap virus corona.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pada pekan lalu IHSG berhasil menguat ke level 12 poin. Namun pada 2 hari terakhir pekan lalu pola candle mengindikasikan adanya penurunan kekuatan naik IHSG.

Dia mengatakan dengan masih adanya potensi kekhawatiran terhadap virus corona, IHSG diperkirakan akan kembali terkoreksi dengan support di level 5.969—5.911. Adapun, resistance diperkirakan akan berada pada level 6.013—6.078.

“Pelaku pasar kami rekomendasikan tetap tenang dan kembali melakukan BOW [pembelian waktu terjadi pelemahan]. Badai Virus korona akan berlalu,” katanya melalui riset, dikutip Senin (10/2/2020).

Menurutnya pasar mulai khawatir dengan dampak kerusakan ekonomi akibat virus corona. Negara dengan perdagangan besar dengan China diyakini akan terganggu oleh proses karantina yang mengganggu rantai pasokan global.

Dia juga mengatakan beberapa importir barang dari China telah mengalami gangguan pasokan akibat liburnya para pekerja. Menurutnya, hal ini akan membuat pasar lebih mencermati perkiraan dampak virus korona terhadap perekonomian China dan global.

Sementara itu, keputusan Bank Sentral China yang mengeluarkan sejumlah stimulus untuk mendorong perekonomian pasar akan menjadi sentimen positif. Stimulus itu meliputi penurunan suku bunga reverse repo  dan menggelontorkan 1,7 triliun yuan atau sekitar US$242,74 miliar melalui operasi pasar terbuka.

Bank Sentra China juga menyatakan akan menggelontorkan ratusan miliar dolar ke dalam sistem keuangan pekan ini. Hal ini akan diiringi dengan penurunan suku bunga pinjaman utama serta persyaratan cadangan perbankan (RRR).

Perundingan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa juga akan menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, proses negosiasi diyakini tidak akan berlangsung dengan cepat dan mudah. Hal ini diperkirakan akan berdampak pada perlambatan ekonomi di kawasan tersebut.

“Negosiasi ini akan cukup sulit menemukan kesepakatan karena proses brexit terkesan dipaksakan dan berlangsung sangat cepat. Konsekuensi yang terjadi adalah peluang perlambatan ekonomi kawasan Eropa dalam beberapa tahun kedepan,” katanya.

Hans menuturkan, pekan ini juga akan warnai berita positif dari China yang mengurangi setengah tarif impor AS senilai US$75 miliar. Tarif beberapa barang AS akan dipotong dari 10 persen menjadi 5 persen, dan dari 5 persen menjadi 2,5 persen mulai 14 Februari

“Kesepakatan itu positif bagi pasar karena mengurangi kekhawatiran dampak perang dagang AS-China yang menekan pertumbuhan global. Presiden Donald Trump mengatakan perjanjian fase kedua akan tercapai di kemudian hari. Hal ini akan menjadi perhatian pasar setelah wabah virus corona berlalu.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top