Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Terseret Kekhawatiran Global, TLKM & BMRI Batasi Koreksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (21/1/2020), di tengah pelemahan pasar saham global.
Calon penumpang menunggu bus Transjkarta dengan latar belakang layar pergerakan saham PT Bursa Efek Indonesia di jalan Jenderal Sudirman Jakarta./Antara-Wahyu Putro
Calon penumpang menunggu bus Transjkarta dengan latar belakang layar pergerakan saham PT Bursa Efek Indonesia di jalan Jenderal Sudirman Jakarta./Antara-Wahyu Putro

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (21/1/2020), di tengah pelemahan pasar saham global.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup di level 6.238,15 dengan koreksi 0,11 persen atau 6,89 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (20/1/2020), IHSG menutup pergerakannya di level 6.245,04 dengan pelemahan 0,74 persen atau 46,61 poin.

Sebelum kembali berakhir di zona merah, indeks sempat bangkit ke zona hijau dengan dibuka naik 0,11 persen atau 6,95 poin di posisi 6.252 pada Selasa (21/1) pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.226,06 – 6.257,88.

Level penutupan yang dibukukan hari ini adalah yang terendah sejak 8 Januari. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.226,06 – 6.257,88.

Enam dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin pertanian (-1,98 persen) dan properti (-1,17 persen). Tiga sektor lainnya mampu menguat, dipimpin infrastruktur (+1,04 persen).

Adapun dari 675 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 144 saham menguat, 257 saham melemah, dan 274 saham stagnan.

Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing turun 3,09 persen dan 1,37 persen menjadi penekan utama IHSG.

Di sisi lain, penguatan saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) masing-masing sebesar 2,10 persen dan 0,98 persen menjadi pendorong utama sekaligus membatasi besarnya koreksi IHSG.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia rata-rata melemah, di antaranya adalah indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing ditutup melemah 0,91 persen dan 0,53 persen.

Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China turun tajam 1,41 persen dan 1,71 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,01 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong bahkan berakhir anjlok 2,81 persen.

Dilansir dari Bloomberg, pelaku pasar keuangan ramai-ramai menjauhi aset berisiko pada perdagangan di Asia, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang wabah virus asal China.

Virus corona (coronavirus) yang ditengarai menjadi penyebab wabah penyakit serupa SARS di Wuhan, China, telah kembali memakan korban jiwa dan menginfeksi banyak tenaga medis.

Pejabat kesehatan di kota Wuhan, China, mengkonfirmasikan kematian orang keempat akibat virus ini. Virus ini juga menginfeksi sejumlah pekerja medis, sekaligus meningkatkan risiko menyebarnya penyakit kala jutaan warga bersiap untuk melakukan perjalanan menjelang liburan Tahun Baru Imlek.

Kabar bertambahnya korban jiwa akibat virus itu menambah keresahan pada pasar, sehari setelah Moody's Investors Service menurunkan peringkat kredit Hong Kong menjadi Aa3 dari Aa2 karena kekacauan politik dalam negeri yang tak juga tampak berujung.

Akibatnya, beragam aset berisiko seperti saham terjungkal. Rata-rata kurs mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, dipimpin yuan China.

“Aksi jual dalam mata uang Asia dipicu oleh pergerakan yuan offshore, yang pada gilirannya bisa disebabkan oleh kekhawatiran atas wabah virus corona,” ujar Khoon Goh, kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group, Singapura.

“Kekhawatiran lebih besar sebenarnya apabila [virus] mulai menyebar ke negara-negara lain di Asia. Jika cukup serius untuk memengaruhi pariwisata, maka mata uang lain di kawasan ini akan lebih rentan,” jelas Goh.

Nilai tukar rupiah pun ditutup melemah 30 poin atau 0,22 persen di level Rp13.669 per dolar AS, setelah mampu terapresiasi 6 poin dan berakhir di posisi 13.639 pada Senin (20/1).

Sebaliknya, pamor aset investasi aman (safe haven) seperti yen Jepang dan obligasi naik.

“Safe haven dan sektor-sektor defensif mungkin akan mengungguli aset berisiko di masa mendatang, dengan emas, yen, paladium, dolar AS, saham perawatan kesehatan dalam posisi yang lebih menguntungkan karena krisis penyakit itu,” tutur Margaret Yang, ahli strategi di CMC Markets dalam sebuah riset.

Munculnya wabah penyakit di China membangkitkan kekhawatiran atas pengalaman wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah, atau SARS, sekitar 17 tahun lalu yang menelan hampir 800 nyawa.

Namun, sebagian pengamat pasar menganggap wabah virus belum menimbulkan ancaman serius. Ada pula yang tidak mengkaitkan virus corona China dengan aksi jual hari ini.

“Bagi pasar, pendorong yang lebih signifikan masih merupakan siklus ekonomi dan momentum kinerja korporasi,” ujar Fan Cheuk Wan, kepala strategi pasar Asia di HSBC Private Bank.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya yang kami temui selama periode SARS, dampak virus ini kemungkinan berumur pendek,” tambahnya.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

CPIN

-3,09

HMSP

-1,37

GGRM

-1,68

UNTR

-1,98

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

TLKM  

+2,10

BMRI

+0,98

BRPT

+1,15

MIKA

+3,73

Sumber: Bloomberg

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper