Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ashmore AM (AMOR) Fokus Kembangkan Infrastruktur Digital

PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. punya dua fokus pengembangan setelah IPO, yakni pengembangan infrastruktur digital dan manajemen risiko produk reksa dana.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  14:42 WIB
Direktur Ashmore PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) Arief Cahyadi Wana di sela-sela seremoni pencatatan saham perdaana perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (14/1/2020). - Bisnis/Hafiyyan
Direktur Ashmore PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) Arief Cahyadi Wana di sela-sela seremoni pencatatan saham perdaana perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (14/1/2020). - Bisnis/Hafiyyan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten manajer investasi (MI) perdana, PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR) berencana menggunakan dana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) untuk pengembangan digital dan manajemen risiko.

Dalam penawaran umum saham perdana (IPO) pada Rabu (14/1/2020), Ashmore AM menawarkan 111,11 juta atau 10% saham dari modal ditempatkan dan disetor. Dengan harga pelaksanaan Rp1.900, perseroan memeroleh dana segar sekitar Rp211 miliar.

Direktur Ashmore AM Arief Cahyadi Wana menyampaikan ada dua fokus pengembangan dari dana IPO tersebut, yakni pengembangan infrastruktur digital dan manajemen risiko produk reksa dana.

“Sekitar 50%-75% [dana IPO] untuk pembangunan digital platform kami. Sisanya untuk memperkuat permodalan dan produk-produk yang kami keluarkan,” ujarnya, Rabu (14/1/2020).

Menurutnya, pengembangan digital diperlukan untuk memperluas pasar, karena masih banyak masyarakat menengah ke bawah yang belum terjangkau akses perbankan. Iklim investasi digital juga kian bertumbuh dan meluas.

Bentuk pengembangan digital nantinya bisa dengan membangun aplikasi sendiri, atau membuat jaringan yang terhubungan dengan e-commerce.

Pengembangan digital juga menjadi salah satu upaya manajemen risiko. Ashmore AM memiliki infrastruktur yang terkoneksi dengan perusahaan induknya Ashmore Group Plc.

Dengan demikian, perusahaan dapat mengadopsi sistem teknologi informasi berstandar tinggi dalam menjalankan fungsi manajemen risiko dan kontrol.

Arief menjelaskan manajemen risiko sangat diperlukan dalam pengelolaan suatu produk reksa dana. Penerbitan produk reksa dana membutuhkan dana yang cukup besar, sehingga adanya pendaan dapat meminimalkan risiko likuiditas, volatilitas, dan fundamental itu sendiri.

“Dana [dari IPO] ini perlu kami bantu untuk dimasukan namanya exit capital. Jadi harus masukan dana supaya minimum AUM [asset under management] itu risikonya aman untuk investor yang masuk ke Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya saat ini banyak produk reksa dana dengan jumlah dana yang kecil. Produk tersebut tentunya agak sulit dikelola oleh MI.

Upaya manajemen risiko inilah yang menjadi keunggulan Ashmore AM. Dengan demikian, investor semakin berminat untuk masuk ke pasar modal.

“Sebelum IPO struktur modal kami sudah kuat, dan adanya dana dari IPO akan semakin kuat. Karena kita tahu reksa dana membutuhkan jumlah yang tidak kecil supaya kesannya aman untuk investor yang berinvestasi di produk itu,” paparnya.

Arief menuturkan setiap tahun perusahaan menerbitkan 2—3 produk baru. Saat ini, Ashmore AM sudah meluncurkan 18 produk reksa dana, mengelola 9 kontrak pengelolaan dana, dan 1 exchange trade fund (ETF).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo pt ashmore asset management indonesia
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top