Strategi 2020, Emiten Farmasi Siapkan Produk Anyar

Sekretaris Perusahaan PT Phapros Tbk. Zahmilia Akbar menyampaikan perseroan menargetkan dapat merilis 12 produk baru pada tahun depan. Sejumlah produk anyar itu seperti produk anti aging, alat kesehatan pengisi tulang (bone filler), produk terapi penyakit degeneratif, dan multivitamin.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  04:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa emiten farmasi menyiapkan produk anyar sebagai salah satu strategi perseroan guna mendorong pertumbuhan pada 2020.

Sekretaris Perusahaan PT Phapros Tbk. Zahmilia Akbar menyampaikan perseroan menargetkan dapat merilis 12 produk baru pada tahun depan. Sejumlah produk anyar itu seperti produk anti aging, alat kesehatan pengisi tulang (bone filler), produk terapi penyakit degeneratif, dan multivitamin.

Produk anti penuaan dini bakal dirilis pada kuartal III tahun depan, dari rencana semula akhir tahun ini. Saat ini fasilitas produksi dalam tahap sertifikasi.

Mila mengatakan bisnis organik masih menjadi faktor pendukung pertumbuhan perseroan pada tahun depan. Bisnis organik seperti inovasi produk baru, strategi marketing yang matang, dan sinergi dengan Kimia Farma Group. Perseroan juga melakukan investasi di beberapa lini sehingga proses produksi berjalan lebih efisien.

Emiten bersandi saham PEHA ini belum dapat membeberkan angka pertumbuhan pada tahun depan. Yang pasti, kata dia, perseroan menargetkan pertumbuhan dua digit untuk penjualan dan laba bersih.

"Kami tetap target tumbuh double digit baik angka topline maupun bottomline," katanya pada Senin (2/12/2019).

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Leonard mengatakan perseroan merilis 2-3 produk anyar setiap tahunnya. Yang terdekat, perseroan akan meluncurkan food suplemen dan 2 produk eksisting dalam bentuk soft gel pada bulan ini.

Leonard menyampaikan inovasi produk baru menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pada tahun depan. Di samping itu, emiten bersandi saham SIDO ini terus meningkatkan penjualan produk eksisting seperti Kopi Jahe, Susu Jahe, Tolak Angin, dan Kuku Bima.

Selain produk baru, pihaknya juga mendorong penjualan produk eksiting. Strategi lainnya, SIDO akan memperluas pasar ekspor ke Vietnam dan Myanmar pada tahun depan, setelah fokus di Filipina, Nigeria, dan Malaysia pada tahun ini.

Lebih lanjut, perusahaan akan melakukan pengapalan pertama ke Arab Saudi pada bulan ini. Pengapalan tersebut merupakan bagian dari perolehan kontrak baru senilai US$500.000 - US$1,5 juta.

Perseroan masih belum dapat menyampaikan target pertumbuhan dan belanja modal pada tahun depan. Yang pasti, lanjutnya, pihaknya tetap mempertahankan pertumbuhan minimal dua digit.

"Kami selalu target minimal tumbuh dua digit, baik topline atau bottomline," imbuhnya.

Direktur Keuangan & Human Capital PT Indofarma Tbk. Herry Triyatno mengatakan perseroan akan merilis 10 jenis produk alat kesehatan di segmen benang bedah dan sterilisasi pada tahun depan. Setelah ini, sejumlah produk baru siap menyusul seperti catheter untuk keperluan perawatan pasien, serta tubing medical untuk supply kebutuhan rumah sakit.

Selain produk sekali pakai (disposabel), pengembangan dilakukan untuk kategori furnitur rumah sakit. "Untuk farma, kami akan launching Hertraz - Trustuzumab produk oncology untuk obat cancer payudara dan vaksin anti Rotavirus," katanya.

Lebih lanjut, Herry belum dapat membeberkan target perseroan pada tahun depan. Saat ini perseroan dalam penyesuaian target setelah terbentung Holding BUMN Farmasi.

"Mengenai besarnya RKAP masih dalam tahap penyelarasan target setelah terbentuknya holding," imbuhnya.

Natalia Sutanto, analis Danareksa Sekuritas, menyampaikan pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat untuk terhadap Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan meningkatan premi BPJS Kesehatan. Langkah ini akan menguntungkan pemangku kepentingan di industri layanan kesehatan.

Selain itu, dukungan pemerintah datang dari permintaan Presiden Joko Widodo kepada seluruh kementerian untuk menyederhanakan regulasi di industri farmasi. Pemerintah juga akan memberikan insentif untuk menghasilkan obat-obatan terjangkau.

"Kami melihat bahwa KLBF, dengan pabrik biosimilar, akan diuntungkan dengan langkah tersebut. Insentif pajak untuk biaya R&D juga akan membuat positif laba pada 2020," katanya dalam riset yang dirilis pada 28 November 2019.

Pertumbuhan kinerja keuangan Kalbe Farma juga akan didukung oleh pabrik biosimilar di Cikarang yang memulai produksi. Produk biosimilar ini akan segera ditawarkan, seperti Hemapo, dengan kandungan bahan baku lokal yang lebih banyak.

Perusahaan menyatakan telah menandatangani kontrak untuk memasok Hemapo untuk BPJS Kesehatan. Selanjutnya, perusahaan saat ini juga mengembangkan obat biosimilar lainnya (Leucogen, Long acting EPO). 

Tahun ini, produk biosimilar dan onkologi diperkirakan akan memberikan kontribusi 7,5% ke pendapatan obat resep perseruan (sekitar 2% dari total pendapatan persuahaan). Meskipun kontribusinya kecil, ini mampu mengimbangi dampak pertumbuhan penjualan dari obat generik dengan margin yang lebih rendah.

Analis memproyeksikan pertumbuhan laba bersih KLBF sebesar 8,8% year-on-year menjadi Rp2,8 triliun. Proyeksi pertumbuhan didorong oleh kenaikan penjualan sebesar 8,4% year-on-year menjadi Rp24,5 triliun.

Natalia memperkirakan obat resep membukukan pertumbuhan 8% year-on-year, didukung permintaan yang solid untuk produk eksisting dan baru. Segmen nutrisi dan produk kesehatan juga diramal meningkat.

"Pada harga saham saat ini, KLBF diperdagangkan dengan proyeksi PE 24,9 kali pada 2020. Kami mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga yang tidak berubah Rp1.800, mencerminkan proyeksi PE 29,6 kali pada 2020," katanya dalam riset pada 28 November 2019.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menyampaikan kontrak baru BPJS belum dilakukan untuk kebutuhan 2020. Adapun potensi nilai kontrak baru tersebut belum dapat disampaikan. 

Saat ini, perseroan masih menunggu jadwal dari instansi terkait. Emiten bersandi saham KLBF juga dalam tahap finalisasi rencana kerja dan anggaran perusahaan untuk tahun depan. 

"Kontrak baru BPJS belum dilakukan untuk kebutuhan 2020. Kami masih menunggu jadwal dari instansi terkait," katanya dikonfirmasi saat Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten farmasi

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top