Pemerintah Serap Rp24,18 Triliun dari Lelang SUN

Lelang surat utang negara (SUN) menggalang penawaran masuk tak terlalu besar, yakni sebesar Rp42 triliun padahal lelang kali ini disebut sebagai lelang terakhir.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 19 November 2019  |  17:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Lelang surat utang negara (SUN) menggalang penawaran masuk tak terlalu besar, yakni sebesar Rp42 triliun padahal lelang kali ini disebut sebagai lelang terakhir.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Selasa (19/11/2019), Pemerintah menetapkan target indikatif Rp15 triliun dan target maksimal Rp30 triliun dari penawaran tujuh seri SUN. Pada lelang kali ini, Pemerintah menyerap dana senilai Rp24,18 triliun.

Adapun, penawaran tertinggi diraih seri FR0082 sebesar Rp14,39 triliun. Dari penawaran masuk itu, hanya Rp7,25 triliun yang dimenangkan dengan rata-rata yield 7,08% dan yield tertinggi 7,09%.

Di urutan kedua, terdapat seri FR0081 yang mendapatkan penawaran masuk sebesar Rp8,22 triliun dan Rp6,35 triliun di antaranya diserap. Untuk seri tersebut, yield rata-rata sebesar 6,47% dan yield tertinggi 6,49%.

Di urutan ketiga, terdapat seri FR0083 mendapat penawaran masuk Rp4,59 triliun dan menerbitkan sebesar Rp2,95 triliun dari seri tersebut. Adapun, dari sisi yield, yield rata-rata yang dimenangkan sebesar 7,53% dan yield tertinggi sebesar 7,55%.

Analis pendapatan tetap MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra mengatakan dengan penerbitan sebesar Rp24,18 triliun ini sebenarnya Pemerintah telah menerbitkan surat berharga negara (SBN) lebih tinggi dari target pada kuartal IV/2019.

Pasalnya, dari lelang sukuk sebelumnya, sisa target penerbitan sebesar Rp22,18 triliun untuk bisa mencapai Rp127,02 triliun. Dengan terpenuhinya target tersebut dan asumsi tak ada tambahan defisit, dia berujar Pemerintah tak bakal melelang surat utang lagi meskipun masih terdapat jadwal lelang hingga pekan kedua Desember 2019.

"Kemungkinan kalau tidak ada penambahan defisit lagi saya perkirakan tidak ada lelang lagi," katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (19/11/2019).

Lebih lanjut, terkait kondisi pasar saat lelang, pasar sekunder tak cukup ramai sehingga penawaran masuk tak sebesar dua kali lelang sebelumnya yang menyentuh Rp73 triliun dan Rp67 triliun.

Lesunya pasar sekunder tercermin pada turunnya volume perdagangan dalam 3 hari belakangan yang secara rata-rata berada di kisaran Rp12 triliun hingga Rp16 triliun. Padahal, nilai transaksi rata-rata sebelumnya di kisaran Rp23,66 triliun.

"Penurunan penawaran pada lelang hari ini dipengaruhi oleh kondisi di pasar sekunder yang juga tidak begitu ramai," katanya.

Sementara itu, Pemerintah memanfaatkan momentum lesunya pasar karena imbal hasil yang diminta investor cukup kompetitif sehingga Pemerintah menyerap cukup banyak pada lelang kali ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top