BI : Nilai Tukar Rupiah Bergerak Relatif Stabil

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, stabilitas nilai tukar ini lebih terpengaruh oleh kondisi supply dan demand yang terjaga.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 01 November 2019  |  14:59 WIB
BI : Nilai Tukar Rupiah Bergerak Relatif Stabil
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -  Bank Indonesia menyatakan nilai tukar rupiah saat ini bergerak relatif stabil dan mekanisme pasar berkembang secara baik tak terpengaruh signifikan atas pelonggaran suku bunga acuan The Fed.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, stabilitas nilai tukar ini lebih terpengaruh oleh kondisi supply dan demand yang terjaga.

Oleh sebab itu, Perry mengapresiasi dunia perbankan dan dunia usaha yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan supply dan demand yang seimbang.

"Jadi tidak ada pengaruh pengaruh yang signifikan mengenai apa yang terjadi di global termasuk juga penurunan suku bunga The Fed," ungkap Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (1/11/2019).

Terkait dengan penurunan suku bunga The Fed pada Kamis (31/10/2019) memang sudah diperkirakan lama dalam pasar. Meski demikian dalam perhitungan Bank Indonesia penurunan suku bunga ini terjadi lebih awal dari yang diperkirakan.

"Karena memang pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sebetulnya memerlukan itu, dan inflasinya juga masih ada tekanan-tekanan inflasi," papar Perry.

Hal ini, kata Perry, menunjukkan lebih lanjut bahwa The Fed memasang sikap hawkish cut.

Meskipun menurunkan suku bunga, tetapi ada pernyataan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan ke depan di AS probabilitasnya semakin kecil.

Perry memerinci awalnya BI memprakirakan setelah penurunan suku bunga The Fed bulan sebelumnya, ada peluang akhir tahun ini tidak ada penurunan suku bunga baru. Pemangkasan lanjut baru akan dilakukan pada kuartal I tahun depan.

"Itu perkiraan kami meskipun pada waktu kami sampaikan, market memang memperkirkan probabilitas tinggi terjadi penurunan suku bunga kemarin," jelasnya.

Kondisi ini membuktikam aliram modal asing pun tak terganggu. Alhasil, Indonesia masih mengantongi kepercayaan investor dan pelaku usaha.

"Memang kelihatan beberapa kali nilai tukar rupiah di bawah Rp14.000, begitu di bawah itu kemudian sejumlah korporasi yang membutuhkan dolar meningkatkan pembelian baik untuk impor atau pembayaran," jelas Perry.

Meski demikian pada sisi lain, para eksportir juga kemudian memberi suplai. Kondisi ini kemudian bergerak sesuai dengan mekanisme pasar guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Ke depan, Perry meyakini masih ada ruang penguatan nilai tukar rupiah. Hal ini terbukti dari beberapa indikasi berdasarkan inflasi yang terkendali di bawah titik tengah sasaran 3,5% sampai 4,5%.

"Selain itu juga ada prospek ekonomi yang baik, dan juga kredibilitas dan confident terhadap kebijakan-kebijakan yang ada," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top