Periode Kedua Jokowi, Ini Harapan Indocement (INTP)

Dari segi industri, pabrikan semen sedang menantikan multiplier effect dari pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  12:56 WIB
Periode Kedua Jokowi, Ini Harapan Indocement (INTP)
Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk Christian Kartawijaya (kiri), dan Corporate Secretary Antonius Marsos memberikan penjelasan mengenai kinerja perusahaan, di Jakarta, Senin (7/8). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku industri semen menaruh harapan kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin untuk dapat membuat langkah terobosan agar ekonomi nasional tetap bertumbuh di tengah ancaman resesi global.

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Christian Kartawijaya mengatakan secara umum dia menaruh harapan besar agar pemerintahan baru nanti bisa memberikan langkah-langkah terobosan yang membuka kesempatan ekonomi Indonesia untuk bertumbuh di tengah ancaman resesi dunia yang di depan mata dengan pelemahan ekonomi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

“Pemerintah baru diharapkan dapat mencari jalan ketergantungan PDB [produk domestik bruto] nasional terhadap komoditas dan ekspor ke China,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Dari segi industri, pabrikan semen sedang menantikan multiplier effect dari pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara.

Dia berharap dengan pembangunan infrastruktur yang telah ada, segera ada kawasan industri yang dikembangkan dan juga hotel yang dibangun untuk menunjang sektor pariwisata.

Dia pun ingin agar pembangunan infrastruktur juga sehingga dapat menekan biaya logistik.

Christian juga berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan yang mendukung industri semen, antara lain dengan moratorium sementara pendirian pabrik semen baru dan melanjutkan aturan yang melarang impor clinker dan semen mengingat saat ini industri menghadapi masalah kelebihan pasokan sebesar 40 juta ton.

Perlu diperhatikan bahwa masih ada beberapa pabrik baru yang akan mulai beroperasi pada tahun depan. Christian pun menyebutkan industri memohon kepada pemerintah melalui Kementerian Perhubungan untuk menunda kebijakan over dimension over load atau ODOL.

“Usulan kami agar ODOL diterapkan bertahap dalam 5 tahun mendatang, agar pihak transporter kami dapat mempersiapkan dana financing dan pengadaan jumlah truk serta jumlah sopir yang kompeten untuk bisa comply dengan peraturan ODOL tersebut,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, indocement

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top