Ringkasan Perdagangan 18 Oktober: IHSG Pantang Turun, Rupiah Menguat

Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya prospek penurunan suku bunga lebih lanjut. Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Jumat (18/10/2019):
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  19:52 WIB
Ringkasan Perdagangan 18 Oktober: IHSG Pantang Turun, Rupiah Menguat
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang relinya pada perdagangan hari keenam beruntun sejak Jumat (11/10/2019) sekaligus menyentuh level penutupan tertinggi baru dalam tiga pekan terakhir.

Nilai tukar rupiah pun melanjutkan penguatannya di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya prospek penurunan suku bunga lebih lanjut.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Jumat (18/10/2019):

IHSG Tetap Perkasa, Bursa Asia Terbebani Ekonomi China

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.191,95 dengan penguatan 0,18 persen atau 11,42 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Indeks mulai berjuang memperpanjang relinya untuk hari keenam saat dibuka naik 0,07 persen atau 4,2 poin di level 6.185,21 pada Jumat pagi (18/1). Meski sempat tergelincir ke zona merah, IHSG berhasil menguat dan menyentuh level penutupan tertinggi baru sejak 27 September.

Sebaliknya, indeks saham lainnya di Asia rata-rata berakhir di wilayah negatif, di antaranya indeks Topix Jepang (-0,13 persen), indeks Hang Seng Hong Kong (-0,48 persen), dan indeks Kospi Korea Selatan (-0,83 persen).

Di China, dua indeks saham utamanya, Shanghai Composite dan CSI 300 bahkan berakhir turun lebih dari 1 persen, masing-masing sebesar 1,32 persen dan 1,42 persen.

Rupiah Ditutup Menguat

Nilai tukar rupiah berhasil melanjutkan penguatannya sebesar 7 poin atau 0,05 persen dan ditutup di level Rp14.148 per dolar AS pada perdagangan hari ini, setelah ditutup terapresiasi 17 poin atau 0,12 persen di posisi 14.155 pada Kamis (17/10).

Dilansir dari Bloomberg, rupiah menguat setelah Bank Indonesia mengungkapkan potensi penurunan suku bunga lebih lanjut.

“Bank Indonesia melihat ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut selama risiko yang datang dari global dan dalam negeri tidak mengacaukan target kami," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo.

Seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah, indek dolar AS terpantau lanjut turun 0,057 poin atau 0,06 persen ke level 97,550 pada pukul 15.51 WIB, setelah berakhir melemah 0,40 persen di posisi 97,607 pada Kamis (17/10).

Aturan IMEI Disahkan, Analis Prediksi Penjualan Emiten Peritel Ponsel Bakal Terkerek

Kinerja emiten peritel ponsel diproyeksikan bakal meningkat dengan pengesahan aturan International Mobile Equipment Identity (IMEI).

Sebanyak 3 Menteri, yaitu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menandatangani Peraturan Tiga Menteri terkait IMEI di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Beleid tersebut bertujuan menekan ponsel ilegal masuk ke Indonesia yang berpotensi menimbulkan kerugian negara. Aturan ini mulai berlaku April 2020.

Pembatasan Isu Lingkungan, Output Baja China Merosot

Output baja bulanan China periode September merosot ke level terendah dalam 6 bulan terakhir akibat serangkaian kebijakan pembatasan yang bertujuan untuk mengurangi polusi menjelang parade memperingati Hari Nasional China pada 1 Oktober.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, total output baja periode September turun 5,4% menjadi 82,77 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan periode Agustus sebesar 87,25 juta ton dan menjadi level terendah sejak Maret.

Kendati demikian, produksi baja mentah China periode September berhasil naik dari 80,85 juta ton pada bulan yang sama tahun lalu. Tidak hanya itu, sepanjang tahun berjalan 2019, China telah menghasilkan baja mentah sebesar 747,82 juta ton naik 8,4% dari periode yang sama tahun lalu.

Harga Minyak Tersengat Penurunan Ekonomi China

Harga minyak jatuh pada perdagangan Jumat (18/10/2019) setelah China, importir minyak terbesar di dunia, mencatat pertumbuhan ekonomi kuartalan terlemah dalam hampir tiga dekade terakhir, terseret oleh perselisihan perdagangan dengan AS yang berlarut-larut.

Sebagai informasi, China mencatat pertumbuhan ekonomi untuk kuartal ketiga tahun ini telah melambat mejadi 6% secara year-on-year, menjadi laju terlemahnya sekitar 27 tahun terakhir. Hal tersebut terjadi di tengah ketegangan perdagangan dengan AS yang masih berlangsung yang telah menekan permintaan domestik.

Adapun, pertumbuhan permintaan minyak mentah akan cenderung mengikuti pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, perlambatan ekonomi China sangat mempengaruhi harga minyak mengingat China juga merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau turun 5,50 poin atau 0,37 persen ke level US$1.492,80 per troy ounce pukul 19.23 WIB, setelah ditutup menguat 0,29 persen atau 4,30 poin di posisi 1.498,30 per troy ounce pada Kamis (17/10).

Dilansir dari Reuters, harga emas di bursa Comex turun akibat terbebani perkembangan seputar tercapainya kesepakatan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa. Meski demikian, penurunan harga logam mulia ini dibatasi oleh lesunya data ekonomi dari China.

“Fokusnya adalah pada Brexit. Risiko dari Brexit tanpa kesepakatan (no deal Brexit) telah berkurang dan secara keseluruhan sentimen untuk Brexit telah meningkat dan kini hanya tentang ketidakpastian suara (di parlemen Inggris),” terang analis ABN Amro, Georgette Boele.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta terpantau stagnan di Rp758.000 per gram. Adapun harga pembelian kembali atau buyback emas Antam naik Rp1.000 menjadi Rp680.000 per gram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top