Booming Minyak Serpih AS Bakal Berakhir?

U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan produksi minyak AS hanya naik 370.000 barel per hari selama setahun ke depan.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  16:09 WIB
Booming Minyak Serpih AS Bakal Berakhir?
Ilustrasi kilang minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Booming minyak serpih  AS yang berlangsung untuk kedua kalinya diperkirakan bakal berakhir. Namun, booming berikutnya akan muncul kembali.

Ahli perminyakan untuk Bloomberg Julian Lee mengatakan hal tersebut dalam catatannya seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (14/10/2019).

Dalam laporan prospek jangka pendek terbaru pekan lalu, U.S. Energy Information Administration (EIA) memangkas perkiraan produksi minyak AS pada akhir 2020. Kini, lembaga itu memperkirakan produksi minyak AS hanya naik 370.000 barel per hari selama setahun ke depan.

“Hal itu akan menjadi pertumbuhan paling lambat dalam 4 tahun. Selain itu, menjadi indikator lain bahwa periode terakhir ekspansi minyak serpih sedang tertatih-tatih,” tulis Lee.

Menurut EIA, jumlah rig pengeboran minyak turun hingga 20 persen sejak November tahun lalu dan peningkatan produktivitas pun berkurang. Pengeboran di Permian, yang paling produktif dari cekungan serpih, terpangkas 11 persen dalam 9 bulan hingga Agustus 2019.

Lee mencatat perkembangan minyak serpih AS mirip dengan laju pertumbuhan seseorang. Selama percepatan pertumbuhan pertama dalam 4 tahun hingga 2014, industri ini dalam fase balita, di mana para pelaku usaha terlalu gencar mengebor hanya untuk melihat apa yang akan terjadi.

Sementara itu, booming kedua pada 2016 dinilai lebih seperti fase remaja. Dalam hal ini, industri lebih tertarik kepada titik-titik tertentu, yang kemudian berujung pada keuntungan produksi yang lebih besar dibandingkan booming pertama.

“Dalam tiga tahun antara Desember 2016 dan Desember 2019, output diperkirakan meningkat sebesar 4,2 juta barel per hari, dibandingkan dengan 3,9 juta barel per hari antara Desember 2010 dan Desember 2014,” sambungnya.

Sementara itu, lanjut Lee, tantangan terbesar dari booming kedua adalah mengidentifikasi dan mengeksploitasi titik-titik yang menjadi fokus tersebut, mengonsolidasikan area untuk memungkinkan penggunaan sumur yang lebih lama, dan membangun infrastruktur untuk distribusi ke pasar termasuk di luar negeri.

Tetapi, dengan harga minyak WTI sekitar US$50 per barel, beberapa produsen di lokasi tambang minyak serpih harus berjuang ekstra. Perusahaan-perusahaan tersebut dipaksa memproduksi komoditas itu lebih banyak untuk membayar utang yang jumlahnya signifikan, tapi tetap tidak mampu menghasilkan laba yang besar untuk membayar dividen.

“Sekarang para investor mulai menuntut lebih banyak pengembalian,” ungkapnya.

Lee memaparkan dengan harga minyak mentah yang tampaknya tertahan di level tersebut, meskipun tensi di Teluk Persia kembali meningkat pada akhir pekan lalu, pembicaraan produsen minyak serpih dan para kreditur mereka kemungkinan sulit. Menurutnya, beberapa produsen kemungkinan akan merger.

“Namun, penggemar minyak serpih AS tidak boleh putus asa. Akhir dari booming serpih kedua akan mengantar yang ketiga, yaitu periode dewasa muda. Ini akan membawa berbagai keterampilan baru, tetapi produksi akan tumbuh pada kecepatan yang lebih terukur,” tambahnya.

Lee menilai booming ketiga akan didorong perusahaan minyak internasional serta ditandai dengan fokus pada ekstraksi yang lebih baik, daripada pertumbuhan output yang cepat. Penerapan teknik pemulihan minyak yang ditingkatkan, konsolidasi kepemilikan, otomatisasi pengeboran, dan rasionalisasi rantai pasokan akan meningkatkan volume minyak yang diekstraksi.

Namun, hal itu tidak akan memberikan laju pertumbuhan yang sama seperti yang terlihat baru-baru ini.

Booming serpihan ketiga akan datang. Hanya, jangan berharap itu terlihat seperti sebelumnya,” tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top