Bursa Asia Rally, IHSG Ditutup Menguat Hari Kedua

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (14/10/2019), di tengah rally bursa Asia.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  16:51 WIB
Bursa Asia Rally, IHSG Ditutup Menguat Hari Kedua
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (14/10/2019), di tengah rally bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.126,88 dengan penguatan 0,35 persen atau 21,08 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat (11/10), IHSG berakhir di level 6.105,80 dengan menanjak 1,36 persen atau 82,16 poin.

Penguatan indeks mulai berlanjut ketika dibuka naik 0,38 persen atau 23,43 poin di level 6.129,23 pada Senin pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.099,24 – 6.153,58.

Empat dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin industri dasar (+1,82 persen) dan barang konsumen (+0,66 persen). Lima sektor lainnya ditutup di zona merah, dipimpin infrastruktur yang melemah 0,74 persen.

Dari 657 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 193 saham menguat, 207 saham melemah, dan 257 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing naik 1,22 persen dan 1,79 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG di akhir perdagangan.

Indeks saham lainnya di Asia ikut berakhir di zona hijau, di antaranya indeks Kospi Korea Selatan (+1,11 persen) dan indeks Hang Hong Kong (+0,81 persen).

Di China, dua indeks saham utamanya, Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing ditutup naik tajam 1,15 persen dan 1,06 persen.

Menurut tim analis Samuel Sekuritas Indonesia, penguatan IHSG pada perdagangan hari ini didukung oleh reaksi positif pasar saham global terhadap ekspektasi meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Sementara itu, pasar masih menunggu pengumuman anggota Kabinet Kerja jilid II. Hal tersebut dapat menjadi katalis positif untuk pasar apabila yang menteri yang terpilih sesuai harapan.

“Pelaku pasar modal berharap, tim ekonomi Kabinet Kerja jilid II tidak didominasi oleh para politisi,” ungkap tim riset Samuel Sekuritas.

Sependapat dengan Samuel Sekuritas, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya, berpendapat IHSG diperdagangkan di posisi lebih tinggi hari ini karena sentimen positif dari kesepakatan perdagangan antara AS dan China pada Jumat (11/10).

KESEPAKATAN AS-CHINA

Seperti diberitakan, dalam pertemuan lanjutan yang berakhir pada Jumat (11/10) waktu Washington, pemerintah AS dan China menyepakati garis-garis besar perjanjian perdagangan parsial antara kedua negara.

Menurut Presiden AS Donald Trump, ia dan Presiden China Xi Jinping akan menandatangani perjanjian tersebut paling cepat pada November.

Dari kesepakatan tersebut, China akan secara signifikan meningkatkan pembelian komoditas pertanian AS, menyetujui kebijakan kekayaan intelektual dan konsesi terkait jasa keuangan dan mata uang.

Sebagai kompensasinya, AS akan menunda kenaikan tarif yang dijadwalkan berlaku mulai 15 Oktober. Meski demikian, tarif impor tambahan yang berlaku pada Desember, terhadap impor China senilai US$160 miliar, tidak dibatalkan.

"Alasan utama pasar rally dalam beberapa hari terakhir adalah harapan bahwa akan ada kesepakatan, meskipun berupa perjanjian kecil, dan bahwa perang perdagangan ini akan usai di masa mendatang,” ujar Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, Connecticut, dikutip dari Reuters.

Namun, sebagian analis tetap memperingatkan untuk bersikap waspada.

“Kita pernah melihat gencatan senjata terjadi dan kemudian runtuh sebelumnya,” ujar Tai Hui, kepala strategi pasar untuk Asia di JPMorgan Asset Management.

"Ancaman terhadap pertumbuhan global adalah capex perusahaan yang lemah dan berpotensi meluas ke sektor konsumen. CEO tidak akan memulai kembali investasi hanya karena putaran terakhir perjanjian itu antara kedua belah pihak,” lanjutnya.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah tak mampu melanjutkan apresiasinya dan ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen di level Rp14.140 per dolar AS.

Pada perdagangan Jumat (11/10), rupiah berakhir terapresiasi 12 poin atau 0,08 persen di level Rp14.138 per dolar AS, penguatan hari kedua berturut-turut.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBCA

+1,22

HMSP

+1,79

CPIN

+4,27

TPIA

+1,98

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

FREN

-23,64

DUTI

-19,71

ASII

-0,77

BRPT

-2,14

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Bursa Asia

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top