Koreksi IHSG Bebani Langkah Reksa Dana ETF dan Indeks

Per 10 Oktober 2019, hampir seluruh indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  09:42 WIB
Koreksi IHSG Bebani Langkah Reksa Dana ETF dan Indeks
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/12). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Meronanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sejumlah indeks acuan di pasar modal domestik menyeret turun kinerja produk reksa dana Exchange-Traded Fund (ETF) dan indeks.

Hanya produk reksa dana ETF dan indeks berbasis obligasi yang mampu mempertahankan kinerja di tengah-tengah terbenamnya kinerja saham. Berdasarkan data Infovesta Utama per 9 Oktober 2019, terdapat 30 produk dari total 66 produk reksa dana indeks dan ETF yang kinerjanya outperform dari IHSG. 

Produk reksa dana ETF ABF IBI Fund besutan PT Bahana TCW Investment Management mencatatkan kinerja tertinggi sepanjang tahun berjalan, sebesar 10,56 persen. Produk ini juga menjadi satu-satunya yang mencatatkan kinerja positif sebesar 0,73 persen secara bulanan (month-on-month/mom) ketika IHSG terperosok 4,69 persen mom.

Selanjutnya, produk reksa dana Premier ETF Pefindo I Grade dan Premier ETF Indonesia Sovereign Bond yang sama-sama dikelola PT Indo Premier Investment Management, menempati posisi kedua dan ketiga dengan return masing-masing sebesar 3,52 persen dan 2,60 persen.

Adapun sebanyak empat produk yang mencetak kinerja lebih baik dari IHSG tersebut merupakan produk baru yang mana belum memperlihatkan kinerja secara bulanan, seperti Bahana ETF Bisnis27, PNM ETF Core LQ45, Principal Index IDX30 II, dan Simas ETF JII.

Seluruh produk reksa dana ETF dan indeks mencatatkan return di rentang -10,38 persen—10,56 persen secara year-to-date (ytd), sedangkan IHSG melemah 2,66 persen.

Dana kelolaan produk reksa dana ETF dan indeks per 30 September 2019, tercatat sebesar Rp20,86 triliun yang berasal dari 66 produk.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan kinerja produk reksa dana ETF dan indeks memang babak belur selama sebulan terakhir akibat pelemahan bursa saham.

“Kami perkirakan kembali positif saja sudah bagus karena kalau bicara sebulan terakhir minusnya berlebihan, rata-rata di atas 5 persen,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (10/10/2019).

Adapun untuk produk pencetak return tertinggi secara bulanan maupun sejak awal tahun, yaitu ETF ABF IBI Fund, justru menjadi produk dengan underlying asset berupa Surat Utang Negara (SUN) dan bukannya dari kelompok saham. 

Obligasi, khususnya SUN, memang mendapat sentimen positif dari pemangkasan suku bunga. Selain itu, para investor juga tampaknya berlindung di aset surat utang ini karena volatilitas di pasar saham kian tinggi akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

“Sejak awal tahun, yang tersisa positif tinggi hanya ABF IBI Fund karena isinya SUN. Premier ETF Indonesa Sovereign Bond itu juga isinya SUN juga, makanya masih bisa positif,” terang Wawan.

Sementara itu, untuk produk ETF dan indeks yang berisi saham, dia menilai produk dengan saham-saham lapis kedua masih bisa positif jika dilihat dari awal tahun.

Namun, melihat sebulan belakangan ini, hampir seluruh indeks saham memang tertekan akibat ditinggal oleh pada investor. Tekanan terbesar disebut lebih banyak menimpa saham-saham berkapitalisasi besar.

Per 10 Oktober 2019, hampir seluruh indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) merona merah. Beberapa indeks yang masih mencatatkan kinerja tertinggi sejak awal tahun adalah indeks  Pefindo25 sebesar 5,36 persen dan indeks indeks papan pengembangan sebesar 5,20 persen.

Wawan meyakini ke depannya kinerja indeks masih dapat pulih ditopang oleh beberapa faktor. Pertama, harapan adanya window dressing yang dilakukan investor pada akhir tahun.

Kedua, euforia pelantikan Presiden Joko Widodo dan pembentukan kabinet baru pada bulan depan. Ketiga, rilis laporan kinerja keuangan emiten pada kuartal III/2019 yang diharapkan membaik.

Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga pada sisa tiga bulan terakhir pada tahun ini juga diharapkan bisa menggairahkan kinerja produk ETF dan indeks.

Kini, Infovesta Utama hanya menargetkan produk reksa dana ETF dan indeks bisa mencatatkan kinerja sekitar 3—5 persen pada tahun ini, jauh di bawah target yang telah ditetapkan pada awal tahun, yang sebesar 10 persen.

“Sampai 3—5 persen juga kami melihat itu sebagai hal yang positif karena saat ini trennya adalah asing terus menjual karena khawatir ada resesi dan perlambatan ekonomi,” jelas Wawan. 

Sementara itu, target IHSG yang dipasang oleh Infovesta Utama saat ini masih pada level 6.550 atau lebih rendah dari yang ditargetkan pada awal tahun, yang sebesar 6.800.

Dalam risetnya, ETF Desk Indo Premier Sekuritas Alexander Salim menjelaskan bahwa dominannya sentimen negatif yang beredar di pasar telah menekan IHSG.

“Sejalan dengan IHSG [pada pekan lalu], semua indeks acuan reksa dana ETF juga berakhir di zona merah dengan pelemahan terbesar dibukukan oleh indeks IDX High DIviden 20 sebesar -3,62% dan terkecil oleh indeks Jakarta Islamic Index sebesar -1,59%,” tulisnya.

Bahkan, kinerja reksa dana ETF pada pekan pertama bulan ini juga mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan dengan Premier ETF Indo SOC mengalami koreksi paling dalam, yakni sebesar -4,43 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, reksa dana

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top