CPO Terkerek Penguatan Ringgit

Malaysian Palm Oil Association memperkirakan produksi minyak kelapa sawit hanya naik sekitar 0,6% pada September menjadi 1,83 juta ton.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  12:58 WIB
CPO Terkerek Penguatan Ringgit
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA – Sempat turun di sesi pembuka, harga minyak kelapa sawit kembali menguat pada Kamis (10/10/2019), menyusul menguatnya ringgit terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menguat 0,46% atau 10,00 poin ke posisi 2.206 ringgit per ton, pukul 10:22 WIB, setelah dibuka melemah 0,27% atau 6,00 poin ke posisi 2.190 ringgit per ton.

Penguatan kali ini ditopang oleh keperkasaan ringgit di hadapan dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan, ringgit ditutup menguat 0,08% atau 0,0035 poin ke posisi 4,1930 per dolar AS, pada Rabu (9/10/2019). Untuk diketahui, ringgit yang lebih lemah umumnya membuat ekspor CPO lebih murah, meningkatkan permintaan minyak sawit.

Kabar lain yang ikut menguatkan harga, Malaysian Palm Oil Association memperkirakan produksi minyak kelapa sawit hanya naik sekitar 0,6% pada September menjadi 1,83 juta ton.

Produksi di Malaysia Timur diperkirakan 6,7% lebih tinggi dari bulan lalu, sementara hasil di Semenanjung Malaysia diperkirakan turun 2,7%. Angka itu di bawah survei Bloomberg yang menunjukkan produksi Malaysia naik 4,4% menjadi 1,90 juta ton, tertinggi sejak Oktober tahun lalu.

Di tempat lain, mengutip Bloomberg, Kamis (10/10/2019), produsen kelapa sawit utama di Indonesia sedang membiakkan pasukan serangga pemangsa untuk melindungi pohon dari hama kutu yang bisa merusak pohon.

PT Astra Agro Lestari Tbk., perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia, tengah mengembangkan beberapa serangga termasuk Sycanus, sejenis serangga pembunuh, untuk memerangi cacing api pemakan daun. Serangga tersebut juga dapat mengurangi biaya pestisida dan membantu menjaga ekosistem secara lebih efektif.

“Pestisida hanya digunakan jika serangannya masif dan perlu tindakan segera," kata Bandung Sahari, Vice President of Sustainability PT Astra Agro Lestari seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (10/10/2019).

Dia menambahkan penelitan yang mendukung pengendalian hama ramah lingkungan mendesak, karena jika pestisida adalah pilihan pertama, dalam jangka panjang akan mengancam keberlanjutan produksi sawit dan lingkungan.

Astra Agro, kata Sahari, juga membiakkan jenis serangga lain untuk meningkatkan hasil. Kumbang penyerbuk Afrika, sejenis kumbang, digunakan untuk meningkatkan penyerbukan dan dapat meningkatkan jumlah kelapa sawit yang menghasilkan minyak dalam tandan buah menjadi 75% dari 45%, yang dapat menyebabkan produksi minyak lebih tinggi.

Setiap upaya yang dilakukan oleh pekebun Indonesia untuk mempertahankan produksi minyak sawit sangat penting bagi pasar global karena negara ini adalah petani terbesar di dunia, terhitung lebih dari setengah dari total pasokan. Menurut data perusahaan, Astra Agro menghasilkan 1,94 juta metrik ton minyak sawit mentah tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga cpo, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top