AS Pertimbangkan Pakta Mata Uang, Dorong Optimisme Damai Dagang dengan China

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya terkoreksi 0,12% menjadi 98,996.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  12:39 WIB
AS Pertimbangkan Pakta Mata Uang, Dorong Optimisme Damai Dagang dengan China
Uang kertas dolar AS yang menampilkan pendiri negara Amerika Benjamin Franklin dan uang kertas yuan China yang menampilkan mendiang pendiri Republik Rakyat China Mao Zedong terlihat di antara bendera AS dan China dalam gambar ilustrasi yang diambil 20 Mei 2019. - REUTERS / Jason Lee.

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk meluncurkan pakta mata uang yang sebelumnya disepakati oleh China pada perundingan awal tahun ini sehingga dinilai dapat menangguhkan kenaikan tarif impor AS untuk produk China yang dijadwalkan berlaku pada 15 Oktober.

Kesepakatan mata uang, yang menurut AS telah disepakati awal tahun ini sebelum pembicaraan dagang tersendat pada pertengahan tahun ini, akan menjadi bagian dari perjanjian tahap pertama dengan China.

Adapun, kesepakatan pakta mata uang tersebut akan diikuti dengan negosiasi terkait isu-isu inti seperti kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa yang akan dilakukan mulai 10 -11 Oktober 2019 di Washington.

Sentimen tersebut pun sontak meningkatkan optimisme damai dagang antara AS dan China. Akibatnya, pada perdagangan Kamis (10/10/2019) hingga pukul 11.13 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya terkoreksi 0,12% menjadi 98,996.

Oleh karena itu, mayoritas mata uang pasar berkembang dan aset berisiko lainnya berhasil bergerak di zona hijau setelah bergerak dalam tekanan pada beberapa perdagangan terakhir.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019)./Reuters-Kevin Lamarque

Kendati demikian, Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan bahwa perundingan perdagangan tingkat tinggi AS dan China yang pertama kali sejak Juli lalu masih sulit untuk diperkirakan, termasuk kesepakatan parsial sekalipun.

“Sangat sulit untuk diperkirakan. Kami ingin kesepakatan. Mereka ingin kesepakatan. Kami akan melihat apa yang terjadi," ujar Wilbur seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (10/10/2019).

Di sisi lain, hingga saat ini sesungguhnya belum ada rincian yang dipublikasikan tentang pakta mata uang AS-China yang dicapai pada Februari lalu.

Menurut sumber Bloomberg yang tidak ingin disebutkan namanya, pakta ini sebagian besar menyerupai apa yang disepakati AS dalam perjanjian perdagangan baru dengan Meksiko dan Kanada yang juga memasukkan komitmen transparansi termasuk dalam pernyataan Kelompok 20.

Seperti yang diketahui, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeluhkan tentang praktik manipulasi devaluasi nilai tukar mata uang asing dari banyak negara dan merugikan AS.

Lalu, pada perdagangan Senin (5/8/2019), China membiarkan yuan jatuh melampaui level psikologisnya bergerak di bawah 7 yuan per dolar AS, untuk pertama kalinya sejak 2008 saat krisis ekonomi melanda, sebagai balasan atas tarif impor AS untuk produk China.

Hal tersebut pun membuat Pemerintahan Donald Trump secara resmi menyatakan China sebagai manipulator mata uang sehingga kembali membawa kesepakatan pakta mata uang sebagai senjata negosiasinya dalam perundingan kali ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, dolar as

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top