Menanti Perundingan Dagang, Harga Batu Bara Membumbung

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara kontrak pengiriman November 2019 di ICE Newcastle ditutup memanas 3,11% atau 2,10 poin ke posisi US$69,55 per ton, pada Senin (7/10/2019)
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  17:55 WIB
Menanti Perundingan Dagang, Harga Batu Bara Membumbung
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara membumbung seiring dengan bergulirnya kembali perundingan dagang Amerika Serikat dan China pada pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara kontrak pengiriman November 2019 di ICE Newcastle ditutup memanas 3,11% atau 2,10 poin ke posisi US$69,55 per ton, pada Senin (7/10/2019), melanjutkan penguatan di sesi pembuka sebesar 1,56% atau 1,05 poin ke posisi US$68,50 per ton.

Pekan lalu, Jumat (4/10/2019), harga batu bara ini juga ditutup menguat 0,97% atau 0,65 poin ke posisi US$67,45 per ton.

Hal yang sama juga terlihat di ICE Rotterdam, harga batu bara di bursa tersebut menguat 2,43% atau 0,90 poin ke posisi US$63,85 per ton.

Gedung Putih telah mengonfirmasi bahwa pembicaraan tingkat tinggi dimulai pada Kamis (10/10) di Washington. Pembicaraan ini melibatkan Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Perundingan ini menjadi perhatian pasar, karena perang dagang yang berlarut-larut antar dua negara tersebut telah menyebabkan gejolak perekonomian dunia. Sengketa dagang juga telah meredupkan permintaan energi dunia.

Antje Praefcke analis dari Commerzbank di Frankfurt mengatakan bahwa masih banyak ketidakpastian dalam perundingan tersebut, karena kedua belah pihak belum menunjukkan sikap yang legawa.

“Jadi ada yang optimis, tetapi ada juga yang skeptis terhadap perundingan tersebut,” katanya dikutip dari Reuters.

Steve Hulton, Wakil Presiden Senior untuk riset batu bara di Rystad Energi mengatakan, harga batu bara termal Newcastle diperkirakan berada ada level rata-rata US$72 per ton dalam jangka panjang.

“Kebijakan China untuk membatasi impor dapat membatasi kenaikan harga,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Dia menambahkan bahwa permintaan batu bara menurun di pasar tradisional Asia seperti China, tetapi diperkirakan akna diimbangi oleh permintaan baru dari Pakistan dan Vietnam.

Perlambatan Industri Baja

Di tempat lain, perlambatan dalam industri baja global dan dimulainya kapasitas oven kokas di Asia Tenggara telah mengakibatkan penurunan konsumsi global kokas metalurgi.

Seperti diketahui, kokas diproduksi dengan cara memanaskan batu bara metalurgi dalam oven pada kondisi reduksi tanpa udara dalam suhu sangat tinggi. Kokas yang dihasilkan dari pemanasan batu bara bersifat porous, keras dan hanya terdiri dari konsentrasi karbon.

Kokas sendiri adalah salah satu material utama yang dibutuhkan dalam produksi baja. Permintaan batu bara metalurgi untuk mendukung industri pembuatan baja meningkat beberapa tahun terakhir ini.

Munculnya kokas di pasar spot, yang berasal dari sumber-sumber non-tradisional seperti Australia dan Jepang, menyoroti perlambatan dalam industri baja yang secara tradisional dipasok oleh kokas ini. Kokas Australia sebagian besar dipasok ke pelanggan jangka panjang di Eropa, sementara kokas Jepang sebagian besar dikonsumsi di dalam negeri.

Sementara itu, pembakaran lebih banyak tungku sembur dan oven kokas di Asia Tenggara dan India telah menyebabkan berkurangnya permintaan kokas, terutama kokas yang berasal dari China.

China, pengekspor kokas tradisional ke pasar spot, telah mengurangi ekspor kokasnya secara tajam dalam 2-3 tahun terakhir, sebagian besar disebabkan oleh permintaan domestik yang kuat dan harga kokas yang tidak kompetitif di pasar ekspor kokas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, batu bara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top