Pasar Berebut Stok Nikel Jelang Larangan Ekspor Indonesia

Pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel mulai 2020.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  16:16 WIB
Pasar Berebut Stok Nikel Jelang Larangan Ekspor Indonesia
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Nikel menjadi rebutan di pasar sejak awal September 2019, seiring dengan mendekatnya penerapan kebijakan larangan ekspor bijih nikel oleh Indonesia.

Kebijakan tersebut diberlakukan dua tahun lebih awal dari rencana semula, yakni mulai efektif pada awal 2020. 

Ketatnya persaingan mendapatkan nikel tercermin dari drastisnya penurunan stok cadangan nikel di gudang-gudang yang dilacak oleh London Metal Exchange (LME) setelah Indonesia mengonfirmasi kebijakan larangan ekspor bijih nikel tersebut.

Langkah penyerapan pasokan oleh para pelaku pasar pada pekan lalu ternyata cukup agresif. Tercatat, hampir 25.000 ton nikel di salah satu gudang yang dilacak oleh LME telah keluar, atau persediaan telah turun tajam hingga 16 persen.

Penyerapan pasokan tersebut pun sontak menjadi sebuah rekor penurunan stok tertajam dalam sejarah empat dekade kontrak nikel di bursa LME.

Selain itu, catatan pesanan LME lainnya menunjukkan bahwa 75.000 ton nikel dijadwalkan akan dikirim. Pada perdagangan Senin (7/10/2019), stok nikel terpantau kembali turun sebanyak 7.440 ton.

Padahal, jaringan gudang LME dirancang sebagai sumber pasokan logam terakhir jika pasar telah mengalami kondisi krisis pasokan. Pasar pun merespons situasi tersebut sehingga sempat mendorong harga nikel kembali bergerak menguat sepanjang perdagangan pekan lalu.

Sebagai informasi, harga nikel sepanjang tahun berjalan 2019 telah bergerak menguat 65,81 persen dibayangi tertekannya pasokan global dan permintaan yang meningkat.

Sementara itu, perusahaan pembuat stainless steel terbesar di dunia, Tsingshan Holding Group Co China, disebut menjadi dalang rekor penurunan persediaan nikel di LME pada pekan lalu. Berdasarkan sumber Bloomberg yang tidak mau disebutkan namanya, perusahaan itu tersebut membeli nikel dalam jumlah banyak untuk mengamankan pasokan sebelum larangan ekspor bijih nikel mulai berlaku.

Perusahaan tersebut kemungkinan akan mengalami kekurangan pasokan dan perlu memberi pasokan yang cukup untuk pabriknya ketika ekspor dari Indonesia benar-benar tidak lagi masuk ke pasar.

Tsingshan bekerja sama dengan bank-bank pembiayaan termasuk JPMorgan Chase & Co. untuk melepas logam dari bursa dan diperkirakan telah membeli nikel dengan jumlah antara 30.000-80.000 ton. Kendati demikian, baik Tsingshan maupun JPMorgan menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut terkait hal tersebut.

Di sisi lain, dari sisi pasokan, Nickel Asia Corp yang merupakan pemasok utama bijih nikel Filipina mengindikasikan dapat meningkatkan produksi sebanyak 10 persen pada tahun depan, untuk mengambil keuntungan dari harga nikel yang lebih tinggi. Tambang Unit Nikel Asia Cagdianao direncanakan meningkatkan produksi.

Akibatnya, investor lebih fokus pada risiko penurunan harga yang lebih tinggi akibat membludaknya pasokan dibandingkan dengan kontraksi stok cadangan nikel global dalam beberapa perdagangan terakhir. Penurunan harga juga terjadi di tengah kembalinya investor China dari libur panjang, lebih dari sepekan, ke pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (8/10) hingga pukul 15.14 WIB, harga nikel di bursa LME bergerak melemah 0,86 persen menjadi US$17.552,5 per ton. Sementara itu, harga nikel di bursa SHFE bergerak melemah 0,17 persen menjadi 136,720 yuan per ton.

Analis Argonaut Securities Asia Helen Lau mengatakan pihaknya tidak terkejut melihat harga nikel terdepresiasi pascalibur panjang pasar China karena sentimen yang beredar di pasar nikel secara keseluruhan tidak terlalu kuat.

“Karena jatuhnya persediaan nikel olahan dapat diimbangi dalam jangka pendek dengan faktor-faktor lain, termasuk produksi besi kasar nikel, melemahnya permintaan di China, dan potensi cadangan di luar bursa,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg, Selasa (8/10).

Sementara itu, dalam risetnya, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan menyampaikan pihaknya optimistis harga nikel dan timah global dapat menguat di tengah membaiknya aktivitas manufaktur China.

“Dan juga dibantu persediaan nikel dan timah LME yang lebih rendah,” tuturnya, Selasa (8/10).

Secara lebih luas, investor juga menilai prospek pembicaraan perdagangan AS-China di Washington pada pekan ini, di tengah beragam prospek untuk kesepakatan besar yang akan meredakan kekhawatiran perlambatan bagi ekonomi dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nikel

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top