Kapan Momentum Terbaik Emiten Lakukan Stock Split?

Aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) kian ramai di tengah tingginya volatilitas pasar saham saat ini. 
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  09:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) kian ramai di tengah tingginya volatilitas pasar saham saat ini. 

Sepanjang tahun berjalan, sudah ada 10 emiten melakukan aksi tersebut.

Adapun, PT Merdeka Copper Gold Tbk. juga telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melakukan stock split dengan rasio 1:5. Begitu juga PT Andira Agro Tbk. yang akan menggelar RUPSLB pada 23 Oktober 2019 untuk meminta persetujuan stock split dengan rasio 1:5.

Terbaru, PT Unilever Indonesia Tbk. juga mengumumkan rencana aksi korporasi serupa dengan rasio yang akan diumumkan pada waktunya. Adapun, sepanjang tahun lalu, Bisnis mencatat ada 14 emiten yang melakukan pemecahan nilai nominal saham.

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan ketika pasar agak lesu, stock split menjadi salah satu jawaban bagi para investor untuk mencairkan sebagian investasinya. Selain itu, juga untuk memanfaatkan investor dengan dana yang lebih kecil.

Stock split menjadi salah satu strategi perseroan mendistribusikan saham dengan harga tinggi kepada segmen yang berbeda. Dengan demikian, harga menjadi lebih kecil setelah stock split. “Momentum terbaik tetap saat bullish karena daya serap pasar lebih optimal,” katanya pada Kamis (3/10).

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa prospek emiten yang melakukan stock split tetap mengacu pada kinerja perusahaan. Harga setelah stock split memang lebih rendah, tetapi secara valuasi tidak berubah karena jumlah saham beredar juga bertambah banyak.

Bagi investor, yang perlu diperhatikan adalah harga saat ini dibandingkan de­ngan harga wajar per lembar saham itu.

Lebih lanjut, dalam persepsi jangka pendek, potensi kenaikan harga saham akan lebih mudah seiring dengan stock split. Ini karena ada minat beli yang disebabkan oleh harga yang lebih rendah. “Namun, secara jangka panjang kembali nilai perusahaan sejalan dengan kinerjanya,” imbuhnya.

Bisnis mencatat mayoritas kinerja harga saham setelah split justru tertekan. Dari 10 emiten yang melakukan stock split, hanya 3 emiten yang sahamnya naik.

Aria menjelaskan kinerja saham yang cenderung tertekan karena bertambahnya minat beli tidak sebesar minat jual yang meningkat. Sementara itu, minat beli hanya akan meningkat kuat ketika ada informasi kenaikan kinerja atau aksi korporasi yang berkaitan dengan prospek emiten yang lebih baik.

“Salah satu faktornya tentu menunggu laporan kuartal III untuk data EPS TTM [twelve trailing month] yang lebih baik. Untuk JSKY, growth cukup baik tetapi minat pasar masih mengharapkan harga lebih murah. Paling tidak di level PER [price earning ratio] lebih rendah dari 20, tentu lebih menarik,” imbuhnya.

Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan kecen­derungan kinerja saham akan sideways setelah stock split. Sebab, harga yang lebih terjangkau setelah split menarik minat beli oleh investor ritel.

Adapun, kinerja harga saham be­berapa emiten yang positif seiring de­ngan prospek positif terhadap ki­nerja fundamentalnya. Kiswoyo men­contohkan, meski kinerja fundamental BRPT masih tertekan, tetapi harga sahamnya justru melesat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korporasi, stock split

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top