IHSG Ditutup Melemah Lima Hari Beruntun, Rupiah Tambah Kuat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan hari kelima berturut-turut, Kamis (3/10/2019), di tengah pelemahan pasar saham global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  16:36 WIB
IHSG Ditutup Melemah Lima Hari Beruntun, Rupiah Tambah Kuat
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan hari kelima berturut-turut, Kamis (3/10/2019), di tengah pelemahan pasar saham global.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.038,53 dengan koreksi 0,28 persen atau 16,90 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (2/10), IHSG berakhir di level 6.055,42 dengan pelemahan 1,35 persen atau 82,82 poin, koreksi hari keempat berturut-turut.

Indeks mulai melanjutkan pelemahannya ketika dibuka turun 0,37 persen atau 22,40 poin di level 6.033,03 pada Kamis pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 5.997,69 – 6.050,6.

Enam dari sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin finansial (-0,95 persen) dan pertanian (-0,67 persen). Tiga sektor lainnya ditutup di zona hijau, dipimpin tambang yang naik 1,52 persen sekaligus membatasi besarnya penurunan IHSG.

Dari 655 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 155 saham menguat, 262 saham melemah, dan 238 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing turun 3,05 persen dan 1,92 persen menjadi penekan utama berlanjutnya pelemahan IHSG.

Indeks saham lainnya pun mayoritas mengakhiri pergerakannya di zona merah. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang ditutup turun tajam 2,01 persen dan 1,72 persen.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG kembali terseret pelemahan bursa regional pada perdagangan hari ini.

Pada perdagangan Rabu (2/10), pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) serentak anjlok akibat tertekan suramnya gambaran ekonomi pascarilis data kepegawaian dan manufaktur.

Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP yang dirilis pada Rabu menunjukkan pertumbuhan payroll swasta pada bulan Agustus tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya. Dalam laporannya, ADP menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan telah menjadi lebih berhati-hati dalam hal perekrutan.

Data ini memperkuat kekhawatiran yang dipicu pada Selasa (1/10) ketika sebuah laporan menunjukkan aktivitas manufaktur AS berkontraksi ke level terendah dalam lebih dari satu dekade.

Rangkaian data pertumbuhan yang lemah pekan ini menambah tantangan ekonomi global yang sudah bergulat dengan risiko politik dan ketegangan perdagangan.

Fokus pasar kini beralih ke rilis data PMI jasa pada Kamis dan angka nonfarm payrolls pada Jumat (4/1). Kedua data ini akan sangat dicermati oleh investor untuk mengukur kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve.

“Angka ketenagakerjaan akan menjadi metrik yang sangat penting bagi The Fed,” ujar Subadra Rajappa, kepala strategi suku bunga AS di Societe Generale SA, kepada Bloomberg TV.

“Ini adalah titik data terpenting menuju pertemuan The Fed pada Oktober. Jika kita melihat angka yang lemah, maka pasar mulai mempertimbangkan lebih banyak penurunan suku bunga,” jelasnya.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah lanjut ditutup menguat 25 poin atau 0,18 persen di level Rp14.172 per dolar AS, di tengah pelemahan dolar AS.

Pada perdagangan Rabu (2/10), rupiah pun terapresiasi 19 poin atau 0,13 persen dan berakhir di level Rp14.197 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau turun 0,03 persen atau 0,026 poin ke level 98,993 pukul 15.50 WIB, setelah ditutup melemah 0,109 poin di posisi 99,019 pada Rabu (2/10).

Dolar AS di tengah tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan mendalamnya ketegangan perdagangan global.

Pada Rabu (2/10), pemerintah AS mendapatkan persetujuan dari WTO untuk mengenakan tarif impor terhadap barang-barang senilai US$7,5 miliar asal Eropa mulai 18 Oktober.

Persetujuan ini diberikan terkait dengan subsidi ilegal Uni Eropa kepada Airbus, sehingga mengancam akan memicu perang dagang trans-Atlantik.

"Tentu saja tren data AS secara konsisten berada di atas ekspektasi, sehingga data yang bertolak belakang tiba-tiba menciptakan penilaian ulang yang cepat," kata Chris Weston, kepala penelitian di Pepperstone Group, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BBRI

-3,05

BMRI

-1,92

TCPI

-8,99

EMTK

-9,57

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

POLL

+7,85

INCO

+7,81

FREN

+6,70

TPIA

+1,51

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top