Memanasnya Hubungan AS-Uni Eropa Dorong Investor Kembali ke Emas

World Trade Organization (WTO) telah menyetujui langkah Pemerintah AS mengenakan tarif impor untuk sejumlah produk dari Uni Eropa (UE).
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  16:42 WIB
Memanasnya Hubungan AS-Uni Eropa Dorong Investor Kembali ke Emas
Emas. - Bloomberg/Akos Stiller

Bisnis.com, JAKARTA -- Emas berhasil kembali menyentuh level US$1.500 per troy ounce seiring dengan meningkatnya sentimen risiko akibat potensi menegangnya hubungan dagang AS-Uni Eropa

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (3/10/2019) hingga pukul 16.08 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,23 persen menjadi US$1.502,89 per troy ounce, sedangkan harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak menguat tipis 0,05 persen menjadi US$1.508,6 per troy ounce.

Ketegangan hubungan dagang AS-Uni Eropa (UE) makin meningkat seiring dengan keputusan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) menyetujui langkah-langkah Pemerintah AS untuk mengenakan tarif impor terhadap produk UE senilai US$7,5 miliar pada Rabu (2/10).

Persetujuan itu diberikan terkait dengan subsidi ilegal UE kepada Airbus. Akibatnya, Pemerintah AS berencana mengenakan tarif sebesar 10 persen pada pesawat sipil besar dari Prancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris.

Kantor Perwakilan Perdagangan AS mengatakan kenaikan tarif juga akan diberlakukan untuk produk lainya, seperti wiski Irlandia, scotch, anggur, zaitun, keju, produk daging babi tertentu, mentega, dan yogurt, dengan kenaikan sekitar 25 persen.

Label mewah seperti Givenchy dan Louis Vuitton serta anggur dan minuman keras yang diproduksi oleh LVMH, Remy Cointreau SA, Pernod Ricard SA, dan Diageo PLC juga terkena dampak pungutan terbaru dari AS.

Tarif AS yang baru menunjukkan intensitas ketegangan yang signifikan dengan UE setelah sebelumnya Benua Biru memberlakukan tarif senilai 2,8 miliar euro terhadap impor AS menyusul larangan impor baja dan alumunium dari Presiden AS Donald Trump.

Hal ini juga membuka peluang bagi UE untuk memberikan tarif balasan terbaru kepada AS, sehingga risiko geopolitik pun makin meningkat. Kondisi ini terjadi di tengah belum usainya perang dagang AS-China yang telah berdampak pada perlambatan ekonomi global.  

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan ancaman perang dagang AS-UE sesungguhnya permasalahan lama yang mencuat kembali. Kekhawatiran pasar terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global telah membuat bursa saham AS jatuh lebih dari 500 poin atau sekitar 3 persen dalam semalam, mendorong para pelaku pasar memilih untuk membeli emas.

“Emas sudah seharusnya naik atau mengalami technical rebound dari level terendahnya di US$1.460 per troy ounce. Ini akan mendorong buy on low atau membeli ketika harga rendah,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (3/10).

Ketahanan penguatan emas untuk perdagangan ke depannya akan bergantung kepada fundamental yang akan terjadi pada pekan ini. Pasar akan menanti data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini.

Suluh memperkirakan data ketenagakerjaan AS akan berada di bawah ekspektasi, sehingga emas berpotensi melanjutkan penguatan. Dia memproyeksi pada perdagangan Jumat (4/10), emas bergerak di level US$1.490-US$1.525 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top