Penjualan Alat Berat Belum Moncer, Rekomendasi Buy UNTR

UNTR merevisi turun target penjualan alat berat Komatsu dari 4.000 unit menjadi 3.600 unit pada tahun ini. Prospek penjualan alat berat pada tahun ini masih menantang.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 26 September 2019  |  08:32 WIB
Penjualan Alat Berat Belum Moncer, Rekomendasi Buy UNTR
Petugas memeriksa truk di sela-sela serah terima armada terbaru PT United Tractors Tbk. kepada Puninar Group di Jakarta, Senin (28/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Lesunya harga komoditas batu bara dan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil masih berdampak terhadap kinerja penjualan alat berat PT United Tractors Tbk., lantas masihkah penjualan alat berat menjadi motor pertumbuhan kinerja perseroan tahun ini?

Berdasarkan data yang dirilis perseroan, pada Agustus 2019, penjualan alat berat perseroan tercatat sebanyak 237 unit, lebih lemah 31,30 persen dibandingkan dengan Agustus 2018 sebanyak 345 unit.

Penjualan alat berat pada sektor pertambangan berkontribusi sebesar 29 persen, perkebunan 30 persen, konstruksi 30 persen, serta penjualan alat berat pada sektor agribisnis berkontribusi 11 persen.

Pada Agustus 2018, pangsa pasar penjualan alat berat pada sektor pertambangan berkontribusi 45 persen, sektor perkebunan 12 persen, sektor konstruksi 26 persen, dan sektor agribisnis 17 persen.

Sementara itu, sepanjang Januari 2019–Agustus 2019, penjualan alat berat emiten berkode saham UNTR itu terkoreksi 27 persen menjadi 2.359 unit dibandingkan penjualan periode yang sama tahun lalu sebanyak 3.221 unit.

Investor Relation United Tractors Ari Setiyawan menjelaskan bahwa penjualan sepanjang tahun ini hingga Agustus masih terdampak oleh tren penurunan harga batu bara dan CPO.

“United Tractors telah merevisi turun penjualan sampai akhir tahun, terjadi penurunan permintaan pertambangan dan perkebunan,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (25/9/2019).

UNTR

UNTR merevisi turun target penjualan alat berat Komatsu dari 4.000 unit menjadi 3.600 unit pada tahun ini. Prospek penjualan alat berat pada tahun ini masih menantang.

Perseroan menilai, angka penjualan alat berat pada 3.600 dinilai realistis hingga akhir tahun. Pasalnya, perseroan telah memiliki gambaran yang jelas untuk angka tersebut.

Untuk target kinerja, perseroan masih optismistis hingga akhir tahun ini masih dapat sesuai dengan target. Hal itu akan ditopang oleh kinerja dari tambang emas yang diproyeksikan bakal cemerlang.

Kontribusi bisnis pertambangan emas dinilai dapat mendongkrak kinerja perseroan ditengah loyonya penjualan alat berat pada tahun ini. Perseroan memproyeksikan lini bisnis tambang emas dapat memberikan kontribusi sebesar 10 persen.

Dalam laporan keuangan semester I/2019, UNTR melaporkan kontribusi masing-masing unit bisnisnya terhadap pendapatan perseroan, mesin konstruksi 28 persen, kontraktor penambangan 44 persen, pertambangan batu bara 16 persen, pertambangan emas 8 persen, dan industri konstruksi 4 persen.

UNTR menjalankan bisnis penjualan emas melalui PT Agincourt Resources. Hingga Agustus 2019, realisasi volume penjualan emas sebanyak 268.000 Oz.

“Kami harapkan kontraktor pertambangan dapat mempertahankan kinerja operasionalnya dan dapat mempertahankan target produksi seperti tahun lalu, juga adanya kontribusi dari lini usaha baru yaitu pertambangan emas,” ungkapnya.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya dalam risetnya menyebutkan bahwa realisasi penjualan alat berat UNTR hingga Agustus 2019 berada pada 67,6 persen dari target tahun yang diproyeksikan tahun sebanyak 3.491 unit.

Dia menilai bahwa ke depannya, belum ada permintaan alat berat yang berkelanjutan. Hal itu disebabkan oleh belum adanya tanda-tanda pemulihan permintaan alat berat dari sektor pertambangan dan perkebunan hingga saat ini.

Di sisi lain, penjualan emas pada Agustus 2019 mencapai 38.000 Oz atau meningkat 5,6 persen dibandingkan dengan Juli 2019. Sepanjang tahun berjalan, realisasi penjualan emas UNTR telah mencapai 76,9 persen dari proyeksi 2019.

REKOMENDASI BELI

Untuk saham UNTR, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham UNTR beli untuk diperdagangkan dengan target harga Rp23.400 dengan mercerminkan price earning 8,6x hingga 2020.

“Kami memperkirakan volume penjualan emas akan tetap solid untuk sisa tahun ini karena menurut kami tidak ada lagi hari libur nasional yang jatuh pada hari kerja di bulan-bulan mendatang, kecuali untuk Desember. Dengan demikian, kami masih optimis tentang asumsi kami untuk volume penjualan emas,” ungkapnya.

Sementara itu, Robertus Hardy, Analis Kresna Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa performa yang lebih kuat pada bisnis kontraktor tambang di Pamapersada Nusantara (Pama) dapat memitigasi pelemahan sektor penjualan alat berat.

Pasalnya, Pama masih akan menggenjot kinerja penguapasan lapisan tanah atau overburden dan produksi batu bara masing-masing 5 persen dan 6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selain itu, hasil penjualan emas yang dilakukan UNTR masih sejalan dengan target tahunan tahun ini. Harga jual emas pada tahun ini masih lebih tinggi 19 persen dibandingkan dengan harga jual emas pada Desember 2018.

“Kami merekomendasikan beli saham UNTR dengan target harga Rp25.000 yang mercerminkan PER 9,2x pada tahun ini,” sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
untr, alat berat

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top