Prospek Panen Kakao di Pantai Gading Cerah, Harga Turun

Panen kakao di Pantai Gading diperkirakan antara 1,65 juta dan 1,7 juta ton utama pada periode tanam 2019/2020, sejalan dengan 1,66 juta ton pada musim sebelumnya
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 25 September 2019  |  13:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Panen kakao di Pantai Gading diperkirakan antara 1,65 juta dan 1,7 juta ton utama pada periode tanam 2019/2020, sejalan dengan 1,66 juta ton pada musim sebelumnya

Sebuah jajak pendapat dari tujuh eksportir dan penghitung buah, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (25/9/2019).

Mereka menyatakan, prospek panen utama Oktober-Maret naik dari 1,58 juta ton yang diprediksi oleh penghitung dan eksportir polong pada Juli dan datang setelah berminggu-minggu cuaca yang baik.

Perawatan pohon kakao telah membantu mengalahkan penyakit, sehingga meningkatkan potensi tanaman. Mereka yang disurvei mencatat peningkatan bunga di pohon-pohon dalam beberapa minggu terakhir, dengan polong dengan berbagai ukuran.

“Prakiraan pertama kami tidak begitu baik tetapi secara bertahap membaik ketika hujan menjadi lebih teratur dan ketika perawatan mulai berlaku. Sekarang kita melihat panen sekitar 1,7 juta ton,” kata seorang penghitung buah.

Sementara itu, harga kakao global di Intercontinental Exchange (ICE) London ditutup melemah 0,61% atau 15,00 poin ke posisi US$2.439,00 per ton, Selasa (24/9/2019).  

Sementara itu, espor kopi Vietnam, produsen robusta teratas dunia, diperkirakan akan terus turun karena persediaan menyusut. Selain itu, penurunan harga menyebabkan para petani menimbun persediaan.

Menurut perkiraan median dari delapan pedagang yang disurvei oleh Bloomberg, para petani dan tengkulak lokal kemungkinan memegang 5% dari hasil panen, atau 85.000 ton, pada pertengahan September.

“Pengiriman kemungkinan akan terus menurun hingga bulan depan,” kata Le Tien Hung, kepala eksekutif di eksportir nomor 2 Vietnam Simexco Daklak.

Petani telah memegang stok kopi untuk menghindari penjualan pada saat harga diperdagangkan mendekati level terendah sembilan tahun terakhir.

Harga kopi robusta berjangka telah merosot sekitar 14% tahun ini karena persediaan yang melimpah.

Hung mengatakan, pihaknya tidak berani menjual lebih banyak kopi pada saat ini karena kemungkinan persediaan tidak cukup. “Beberapa pedagang telah bergulat untuk memenuhi kontrak Oktober mereka."

Dia memperkirakan Vietnam akan mengirimkan tidak lebih dari 120.000 ton pada September dan Oktober. Itu akan menjadi yang terendah untuk dua bulan sejak 2011, ketika ekspor mencapai sekitar 60.000 ton.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kakao

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top