Ringkasan Perdagangan 17 September: IHSG Lawan Arus di Asia, Rupiah Tetap Lesu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri pergerakannya di zona hijau saat sebagian besar indeks saham di Asia bergerak negatif.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 17 September 2019  |  19:31 WIB
Ringkasan Perdagangan 17 September: IHSG Lawan Arus di Asia, Rupiah Tetap Lesu
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri pergerakannya di zona hijau saat sebagian besar indeks saham di Asia bergerak negatif.

Kendati demikian, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS di tengah menyurutnya daya tarik aset berisiko setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi menghidupkan kembali kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan global.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Selasa (17/9/2019):

Tunggu Pertemuan Bank Sentral, IHSG Ditutup di Zona Hijau

IHSG berhasil rebound ke zona hijau dan berakhir naik 0,28 persen atau 17,25 poin di level 6.236,69, mematahkan rangkaian koreksi selama tiga hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. yang masing-masing naik 1,43 persen dan 1,18 persen menjadi penopang utama rebound IHSG.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen negatif global dan sikap wait and see investor atas kebijakan suku bunga bank sentral.

The Fed diantisipasi akan memangkas suku bunga acuannya dalam merespons perlambatan ekonomi global. Pada hari yang sama, pasar akan menantikan rilis kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).

Investor Cermati Dampak Serangan Aramco, Bursa Global Bergerak Negatif

Bursa Eropa kompak bergerak negatif bersama indeks futures Amerika Serikat (AS), saat investor mencermati dampak dari serangan drone terhadap salah satu fasilitas minyak terbesar dunia, Saudi Aramco di Arab Saudi.

Sementara itu, indeks MSCI All-Country World, yang melacak pergerakan saham di 47 negara turun 0,1 persen dan indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang melemah 0,76 persen, berdasarkan data Reuters.

Perkembangan tersebut di Timur Tengah menguji sentimen pasar setelah awal yang bullish bulan ini untuk ekuitas global dan aset berisiko lainnya. Pemimpin tertinggi Iran menyatakan negara Republik Islam ini tidak akan bernegosiasi dengan AS di manapun dan tingkat apapun.

Peristiwa tersebut juga membayangi kekhawatiran investor tentang memanasnya perang dagang AS-China. Tim negosiator perdagangan AS dan China dikabarkan akan memulai kembali pembicaraan, menjelang pertemuan para pejabat tinggi pemerintah masing-masing pihak pada awal Oktober.

Rupiah Menuju Level Terendah dalam Sepekan Terakhir

Nilai tukar rupiah menyentuh level terendah dalam sepekan terakhir pada perdagangan hari ini, setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi menghidupkan kembali kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan global.

Kepala ekonom Mizuho Bank Vishnu Varathan mengatakan pergerakan rupiah mencerminkan dampak dari kenaikan harga minyak dan risiko geopolitik, dan rupiah dapat diperdagangkan dalam kisaran Rp13.950-Rp14.250 per dolar dalam waktu dekat.

"Sepertinya rupiah bisa tetap tertahan dalam perdagangan pra-FOMC karena dolar AS mempertahankan nada spekulasi bahwa Fed akan mengurangi ekspektasi yang terlalu dovish," kata Varathan, seperti dikutip Bloomberg.

Ekonomi China Melemah, Harga Logam Dasar Rapuh

Mayoritas logam dasar tertekan seiring dengan lemahnya data ekonomi China terbaru sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terkait dengan melambatnya prospek permintaan dari negara importir logam terbesar tersebut.

Output industri China periode Agustus 2019 dirilis tumbuh pada laju terlemah sejak 2002, yaitu hanya naik 4,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan prediksi pasar sebesar 5,2 persen.

Direktur Riset Komoditas BMO Capital Colin Hamilton mengatakan bahwa data tersebut jelas lebih lemah daripada yang diharapkan pasar sehingga berpotensi kuat untuk menghacurkan harga logam dasar dunia.

Memperburuk sentimen, data yang lemah tersebut dirilis bersamaan dengan harga minyak yang melonjak tajam akibat serangan di kilang dan fasilitas pemrosesan minyak mentah terbesar dunia sehingga memberikan kekhawatiran bahwa inflasi juga akan terkerek naik.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau turun 3,10 poin atau 0,21 persen ke level US$1.508,40 per troy ounce pukul 18.31 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, harga emas Comex bergerak di level 1.500,90 – 1.508,80.

Harga emas bergerak flat cenderung terkoreksi saat pasar menantikan pertemuan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve yang akan berakhir Rabu (18/9/2019) waktu setempat. The diantisipasi akan kembali memangkas suku bunga acuannya.

“Pasar sedang mencari katalis baru. Pemangkasan suku bunga 25 basis poin relatif sudah diperhitungkan, tetapi yang benar-benar dicari oleh para pedagang adalah petunjuk ke depannya,” terang Analis Phillip Futures, Benjamin Lu, seperti dikutip dari Reuters.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta stagnan di Rp753.000 per gram. Adapun, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam turun tipis Rp1.000 menjadi Rp675.000 per gram.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top