Tunggu Pertemuan Bank Sentral, IHSG Ditutup di Zona Hijau

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan rangkaian koreksinya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (17/9/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 17 September 2019  |  16:38 WIB
Tunggu Pertemuan Bank Sentral, IHSG Ditutup di Zona Hijau
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan rangkaian koreksinya dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (17/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir naik 0,28 persen atau 17,25 poin di level 6.236,69 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (16/9), IHSG berakhir di level 6.219,43 dengan penurunan tajam 1,82 persen atau 115,41 poin, penurunan hari perdagangan ketiga beruntun.

Sebelum rebound, indeks sempat melanjutkan pelemahannya dengan dibuka turun tipis 0,07 persen atau 4,20 poin di level 6.215,24 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.205,3 – 6.240,35.

Enam dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin pertanian (+2,95 persen) dan infrastruktur (+1,50 persen). Tiga sektor lainnya ditutup di zona merah, dipimpin aneka industri yang turun 2,71 persen sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG.

Dari 652 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 212 saham menguat, 181 saham melemah, dan 259 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. yang masing-masing naik 1,43 persen dan 1,18 persen menjadi penopang utama rebound IHSG.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen negatif global dan sikap wait and see investor atas kebijakan suku bunga bank sentral.

“Pasar diperkirakan akan bersikap wait and see menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve pada Kamis dini hari (19/9/2019) WIB,” papar Samuel

The Fed diantisipasi akan memangkas suku bunga acuannya dalam merespons perlambatan ekonomi global. Pada hari yang sama, pasar akan menantikan rilis kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).

Pakar strategi senior emerging market TD Securities Mitul Kotecha memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan yang berakhir Kamis (19/9), pascaserangan terhadap salah satu instalasi minyak utama di Arab Saudi.

BI sebelumnya diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen dari level saat ini 5,50 persen.

“Sebelum serangan drone, keputusan (BI) tampaknya jelas akan memangkas, dengan inflasi tetap rendah dan BI menjadi lebih berorientasi pro-pertumbuhan. Sekarang muncul seruan lebih dekat mengingat pelemahan berikutnya pada rupiah,” terang Kotecha, seperti dilansir dari Bloomberg.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 58 poin atau 0,41 persen di level Rp14.100 per dolar AS, setelah berakhir terdepresiasi 75 poin atau 0,54 persen di posisi 14.042 pada Senin (16/9).

Seperti diberitakan, pada Sabtu (14/9/2019), fasilitas minyak milik raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, terbakar setelah diserang drone. Serangan drone tersebut berdampak pada dua pabrik Aramco, yakni di Abqaiq dan Khurais, serta mendongkrak harga minyak melonjak.

Saudi Aramco kini menghadapi beberapa pekan atau bulan sebelum mayoritas output dipulihkan di pabrik pengolahan raksasa Abqaiq pascaserangan tersebut. Hal ini serta merta menambahkan beban baru bagi ekonomi global.

Perkembangan tersebut di Timur Tengah menguji sentimen pasar setelah awal yang bullish bulan ini untuk ekuitas global dan aset berisiko lainnya. Pemimpin tertinggi Iran menyatakan negara Republik Islam ini tidak akan bernegosiasi dengan AS di manapun dan tingkat apapun.

Peristiwa itu juga membayangi kekhawatiran investor tentang memanasnya perang dagang AS-China. Tim negosiator perdagangan AS dan China dikabarkan akan memulai kembali pembicaraan, menjelang pertemuan para pejabat tinggi pemerintah masing-masing pihak pada awal Oktober.

“Anda melihat sikap wait and see, dan itulah mengapa pasar sangat gugup,” ujar Virginie Maisonneuve, chief investment officer di Eastspring Investments, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television.

Mayoritas indeks saham di Asia berakhir di wilayah negatif, di antaranya indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China yang masing-masing melorot 1,74 persen dan 1,68 persen. Adapun Hang Seng Hong Kong ditutup turun tajam 1,23 persen.

Baik indeks Shanghai dan indeks blue-chip China turun sekitar 1,7 persen setelah PBOC mempertahankan suku bunga utamanya, terlepas dari bukti baru-baru ini atas tekanan lebih lanjut terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBRI

+1,43

TLKM

+1,18

HMSP

+1,75

PGAS

+6,34

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

ASII

-3,36

MEGA

-4,88

CPIN

-1,87

BRPT

-1,39

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top