Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa Asia Menguat di Tengah Spekulasi Stimulus di China

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (11/9/2019) di tengah tanda-tanda bahwa China akan mengurangi dampak perang perdagangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 September 2019  |  15:35 WIB
bursa asia
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (11/9/2019) di tengah tanda-tanda bahwa China akan mengurangi dampak perang perdagangan.

Indeks MSCI Asia Pacific terpantau menguat 0,69 persen pada pukul 15.00 WIB, sedangkan indeks Topix dan Nikkei 225 masing-masing menguat 1,65 persen dan 0,96 persen. Adapun indeks Kospi ditutup menguat 0,84 persen.

Sementara itu, indeks Hang Seng menguat 1,62 persen. Di sisi lain, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah 0,41 persen dan 0,74 persen.

Dilansir Bloomberg, bursa Asia menguat setelah editor surat kabar Global Times Hu Xijin pada akun Twitternya mengatakan China akan menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak perang perdagangan.

China secara terpisah merilis daftar barang yang akan dibebaskan dari tarif import, namun tidak termasuk kedelai dan babi, seperti yang diperkirakan sejumlah analis.

Di sisi lain, bursa China melemah setelah penasihat senior Gedung Putih menurunkan harapan untuk putaran perundingan perdagangan AS-China, mendesak investor, bisnis, dan masyarakat untuk bersabar terhadap penyelesaian sengketa perdagangan.

Sementara itu, upaya terbaru China untuk lebih membuka pasar keuangannya tampaknya hanya berdampak terbatas untuk pasar, setidaknya untuk saat ini, karena langkah tersebut sebagian besar tampak simbolis.

Regulator valas China memutuskan pada hari Selasa untuk mencabut pembatasan kuota pada dua skema investasi utama, karena melemahnya yuan dan meningkatnya arus modal keluar mendorong Beijing untuk berupaya menarik lebih banyak modal asing.

"Pada akhirnya, apakah investor asing akan berinvestasi lebih banyak di China atau tidak tergantung pada prospek fundamental saat ini dan masa depan dari ekonomi yang mendasarinya, tren pendapatan perusahaan, daya tarik imbal hasil dan spread hasil, serta penguatan atau pelemahan (yuan)," kata Khiem Do, kepala investasi Greater China, seperti dikutip Reuters.

Prospek stimulus lebih lanjut dari China datang setelah beberapa investor memutar balik harapan untuk akomodasi moneter yang lebih agresif dari Bank Sentral Eropa pada hari Kamis dan Federal Reserve pekan depan.

“Kami merasa sedikit kecewa terhadap rencana pelonggaran moneter, padahal kami telah berharap,” Jeff Boswell, seorang fund manager di Investec Asset Management, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top