Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Negara di Eropa Mulai Kurangi Ketergantungan Gas Rusia

Ekspor gas Rusia ke Turki dan delapan negara Eropa Tenggara lainnya turun lebih dari seperempat pada paruh pertama 2019. Hal ini karena, gas alam cair (LNG) yang lebih murah dan pasokan baru Azerbaijan membantu kawasan itu mengurangi ketergantungan pada Negeri Beruang Merah tersebut.

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor gas Rusia ke Turki dan delapan negara Eropa Tenggara lainnya turun lebih dari seperempat pada paruh pertama 2019. Hal ini karena, gas alam cair (LNG) yang lebih murah dan pasokan baru Azerbaijan membantu kawasan itu mengurangi ketergantungan pada Negeri Beruang Merah tersebut.

Dilansir dari Reuters, Jumat (6/9/2019), berdasarkan data Gazprom Rusia, ekspor gas Rusia ke Turki, pasar regional terbesar, turun 36% dibandingkan dengan paruh pertama 2018, sementara ekspor ke Yunani dan Bulgaria turun masing-masing 12,7% dan 17,4%,

Harga LNG yang rendah, ditopang oleh permintaan spot yang lamban di Asia dan peningkatan produksi khususnya di Amerika Serikat. Selain itu juga karena perluasan produksi gas dan kapasitas pipa dari Azerbaijan, sehingga membantu beberapa negara regional melakukan diversifikasi pemasok.

Angka yang dipublikasikan oleh raksasa energi Rusia tersebut menunjukkan, ekspor Gazprom ke sembilan negara kawasan turun 27% menjadi 14,2 miliar meter kubik (bcm) dari 19,5 bcm setahun sebelumnya.

“Harga LNG yang rendah mempercepat tren pengurangan ketergantungan gas Rusia,” kata Alex Lagakos, kepala Forum Energi Yunani, sebuah lembaga pemikir yang berfokus pada pasar Yunani dan regional.

Sumber di pasar gas Turki mengatakan, harga kontrak bulan depan Belanda, patokan untuk LNG spot dikirim ke Eropa, rata-rata di level US$3,6 per juta British thermal unit (mmBtu) musim panas ini, sekitar setengah harga Gazprom untuk gas yang dipasok ke Turki,

Gazprom tidak mempublikasikan harga kontrak gas mereka.

Turki mengimpor 8,1 bcm dari Gazprom pada paruh pertama tahun ini, turun dari 12,7 bcm setahun sebelumnya. Ketergantungannya pada pasokan Rusia turun menjadi 35% dari kebutuhannya dari 49%.

Sumber pasar gas Turki mengatakan, penurunan aliran Rusia mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan kepada Gazprom bahwa Turki dapat bertahan hidup tanpa gas Rusia.

Akan tetapi para analis mengatakan, negara-negara regional tidak berusaha untuk memeras Gazprom sepenuhnya demi LNG, melainkan mereka ingin mengurangi ketergantungan mereka pada satu pemasok.

Impor gas Turki dari Iran bertahan hampir stabil, sementara impor dari Azerbaijan melonjak 43% pada periode tersebut, setelah peluncuran tahap kedua ladang gas Shah Deniz BP di Laut Kaspia dan Pipa Gas Alam Trans-Anatolia, dijalankan oleh SOCAR Azerbaijan tahun lalu.

Dalam perkembangan lain, ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Amerika Serikat tak seberapa pada 3 tahun lalu. Kini jumlah ekspor mereka mencapai 10% dari pasar global pada Juli tahun ini.

Jika dikalkulasikan, ekspor LNG AS sejauh tahun ini menyentuh 22 juta ton sejauh tahun ini, setara dengan hasil pada tahun lalu. Data Refinitiv menunjukkan hal tersebut pada Selasa (3/8).

Data yang dihimpun dari perjalanan individual tanker LNG dari sumber pasokan ke tujuan, juga menunjukkan, produksi LNG dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada bulan lalu sebanyak 31 juta ton.

Saat volume global tumbuh, Qatar, yang bertahun-tahun menjadi pemasok LNG terbesar di dunia, kehilangan pangsa pasar. Sementara Australia mengekspor lebih banyak LNG dibandingkan dengan negara-negara lain dalam 2 bulan terakhir.

Lonjakan pasokan telah lama terjadi karena fasilitas ekpsor LNG di Gulf Coast AS mulai beroperasi usai bertahun-tahun dalam proses pembangunan. Selain itu juga didorong oleh terminal besar LNG Rusia di Arktik dan sejumlah fasilitas ekspor di Australia.

Australia, Qatar, Amerika Serikat, Rusia dan Malaysia menerima lonjakan pesanan dalam 2 bulan terakhir, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya Nigeria dan Indonesia bersaing untuk mendapatkan di tempat lima besar importir top LNG global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dika Irawan

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper