Rupiah Juara Asia, Ini Faktor Penguatnya

Rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (6/9/2019), sekaligus penguatan mingguan ketiganya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 06 September 2019  |  17:35 WIB
Rupiah Juara Asia, Ini Faktor Penguatnya
Ilustrasi uang tunai rupiah

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (6/9/2019), sekaligus penguatan mingguan ketiganya.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 54 poin atau 0,38 persen di level Rp14.101 per dolar AS dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (5/9/2019), rupiah berakhir terapresiasi 5 poin atau 0,04 persen di posisi 14.155. Mata uang Garuda mulai melanjutkan penguatannya dengan dibuka terapresiasi 15 poin atau 0,11 persen di level 14.140.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.101-Rp14.148 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, penguatan rupiah didukung rencana reformasi perpajakan oleh pemerintah dan meningkatnya daya tarik untuk aset berimbal hasil tinggi akibat meredanya ketegangan perdagangan.

“Rupiah telah diuntungkan dari daya tarik aset berisiko yang lebih baik seiring dengan rencana berlanjutnya perundingan perdagangan AS-China, sementara China juga akan melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut,” terang Chang Wei Liang, ahli strategi makro di DBS Bank, Singapura.

Pada Kamis (5/9), pemerintah China mengumumkan akan mengadakan putaran baru perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) pada awal Oktober di Washington.

Sementara itu, Dewan Negara China mendorong bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter, termasuk pemotongan persyaratan rasio cadangan modal perbankan untuk mendukung perekonomian serta langkah-langkah implementasi yang lebih cepat untuk mengurangi suku bunga pinjaman riil.

“Selain faktor global, rupiah bisa mendapatkan keuntungan dari arus masuk ekuitas dari pemotongan pajak perusahaan yang prospektif,” tambah Chang.

Pemerintah mempersiapkan rancangan undang-undang (RUU) ketentuan dan fasilitas perpajakan yang akan mengatur pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) dan ketentuan umum perpajakan (KUP).

Pada Selasa (3/9), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan RUU itu akan mengatur penurunan tarif PPh badan dari 25 persen pada saat ini menjadi 20 persen berlaku mulai tahun 2021.

Di samping itu, RUU tersebut juga akan menurunkan tarif PPh sebesar 3 persen bagi perusahaan yang akan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Apabila tarif normalnya 30 persen, maka pemerintah akan menurunkan menjadi 17 persen.

Penguatan yang dialami rupiah sekaligus membawanya menjadi jawara di antara mata uang Asia sore ini. Mengekor penguatan rupiah adalah yuan onshore China yang terapresiasi 0,36 persen terhadap dolar AS pukul 17.08 WIB.

“Pasar telah bangkit pekan ini karena sejumlah berita positif mulai dari meredanya tensi perdagangan AS-China hingga perkembangan situasi di Hong Kong dan beberapa data AS yang lebih baik dari perkiraan,” jelas Tetsuya Yamaguchi, kepala analis teknis di Fujitomi Co.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik tipis 0,032 poin atau 0,03 persen ke level 98,446 pada pukul 16.58 WIB dari level akhir perdagangan Kamis (5/9).

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka di zona hijau dengan kenaikan hanya 0,004 poin di level 98,418. Pada perdagangan Kamis (5/9), indeks ditutup melemah 0,04 persen atau 0,037 poin di posisi 98,414.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top