Bursa Asia Memanjat, IHSG & Rupiah Tambah Kuat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Kamis (5/9/2019), bersama dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 September 2019  |  16:48 WIB
Bursa Asia Memanjat, IHSG & Rupiah Tambah Kuat
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Kamis (5/9/2019), bersama dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,59 persen atau 37,14 poin di level 6.306,8 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (4/9), IHSG berakhir naik 0,13 persen atau 8,07 poin di level 6.269,66.

Penguatan indeks mulai berlanjut dengan dibuka naik 0,39 persen atau 24,62 poin di level 6.294,28. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.281,95 – 6.307,35.

Tujuh dari sembilan sektor berakhir di zona hijau, dipimpin aneka industri (+2,58 persen) dan tambang (+1,30 persen). Adapun sektor pertanian dan barang konsumsi masing-masing turun 0,56 persen dan 0,02 persen.

Dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 219 saham menguat, 186 saham melemah, dan 246 saham stagnan.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 3,08 persen dan 1,44 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Bersama IHSG, mayoritas indeks saham di Asia juga berakhir di wilayah positif. Bursa saham Jepang memimpin kenaikan di antara mayoritas bursa Asia setelah pemerintah China mengumumkan akan mengadakan putaran baru perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) pada awal Oktober di Washington.

Prospek perundingan itu dapat meningkatkan harapan akan adanya progres dalam perang dagang kedua negara yang telah berlarut-larut selama lebih dari setahun, sekaligus memperkuat sentimen untuk aset berisiko menyusul perkembangan positif di Inggris dan Hong Kong.

Pada Rabu (4/9), anggota parlemen di majelis rendah Parlemen Inggris memberikan suara untuk menyetujui undang-undang yang dirancang untuk mencegah pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Pada hari yang sama, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam akhirnya mencabut RUU ekstradisi yang telah menyulut aksi protes keras dan kerusuhan dalam sekitar tiga bulan terakhir.

“Ada kelegaan bahwa ketegangan di Hong Kong mereda. Tindak lanjut itu dan minimnya pemberitaan buruk membuat pasar melayang lebih tinggi,” ujar Brian Battle, direktur perdagangan di Performance Trust Capital Partners, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, banyak analis China meyakini dampak negatif pada pasar akibat perang dagang AS-China akan sedikit menurun seiring waktu, karena pemerintah China melancarkan lebih banyak langkah untuk mendorong perekonomian.

Dewan Negara China mendorong bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter, termasuk pemotongan persyaratan rasio cadangan modal perbankan untuk mendukung perekonomian serta langkah-langkah implementasi yang lebih cepat untuk mengurangi suku bunga pinjaman riil.

Pemerintah juga menyerukan percepatan penerbitan obligasi khusus oleh pemerintah daerah. Obligasi ini sebagian besar digunakan untuk membayar pengeluaran infrastruktur.

"Ini adalah sinyal pelonggaran terkuat dari setiap pertemuan kebijakan tahun ini," tulis Song Yu, kepala ekonom China di Beijing Gao Hua Securities Co., seperti dikutip melalui Bloomberg.

"Langkah-langkah kebijakan yang diharapkan akan memberikan dukungan kepada ekonomi riil, mengurangi risiko perlambatan di semester kedua," lanjutnya, seraya mengingatkan masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar pelonggaran tersebut akan dilakukan.

Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang melonjak 2,12 persen dan 1,83 persen masing-masing, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,82 persen. Di China, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing ditutup menanjak 0,96 persen dan 1,01 persen.

Meski demikian, indeks Hang Seng Hong Kong berakhir turun tipis 0,03 persen, setelah melonjak sekitar 4 persen sehari sebelumnya.

Permintaan untuk aset berisiko turut membantu mengerek tenaga sejumlah mata uang dunia. Nilai tukar yuan China naik ke level tertinggi dua pekan dan Won Korea Selatan yang bergantung pada perdagangan menguat 0,4 persen ke level tertinggi satu bulan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat 5 poin atau 0,04 persen di level Rp14.155 per dolar AS, setelah berakhir terapresiasi 68 poin atau 0,48 persen di level Rp14.160 pada perdagangan Rabu (4/9).

“Seperti wilayah lainnya, sentimen telah meningkat karena meredanya ketegangan politik mulai dari Brexit hingga Hong Kong serta dimulainya kembali perundingan China-AS pada bulan Oktober,” kata Philip Wee, analis valas di DBS Bank, dikutip dari Bloomberg.

Sebaliknya, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau melemah 0,089 poin atau 0,09 persen ke posisi 98,362 pada pukul 15.51 WIB.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

ASII

+3,08

BBRI

+1,44

UNVR

+0,95

TLKM

+0,70

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

HMSP

-1,50

BRPT

-3,85

GGRM

-1,21

FREN

-5,71

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top