Setelah 4 Hari Tertekan, Minyak Berbalik Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (27/8/2019) hingga pukul 14.47 WIB, harga minyak berjangka jenis WTI di bursa Nymex bergerak menguat 0,56% menjadi US$53,94 per barel.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  15:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia berhasil pulih setelah jatuh untuk 4 hari berturut-turut seiring dengan Presiden AS Donald Trump yang melontarkan komentar dengan nada perdamaian dengan China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (27/8/2019) hingga pukul 14.47 WIB, harga minyak berjangka jenis WTI di bursa Nymex bergerak menguat 0,56% menjadi US$53,94 per barel.

Sementara itu, minyak brent di bursa ICE menguat 0,44% menjadi US$58,96 per barel.

Analis Komoditas di HI Investment & Futures Corp Seoul Sungchil Will Yun mengatakan bahwa harga minyak dunia terus merespons sentimen perang dagang antara AS dan China.

Tercatat, harga minyak telah turun 20% sejak menyentuh level tertingginya pada April sebagian karena kekhawatiran pasar bahwa konflik perdagangan AS dan China akan mengganggu ekonomi global sehingga dapat mengurangi permintaan minyak.

“Yang berbeda sekarang adalah bahwa pasar telah tumbuh kurang sensitif terhadap komentar pendamaian Trump dan menyarankan investor tidak mengharapkan resolusi cepat untuk konflik,” ujar Sungchill seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (27/8/2019).

Seperti yang diketahui, Kementerian Perdagangan China pada pekan lalu mengatakan akan mengenakan tarif tambahan 5% atau 10% pada total 5.078 produk yang berasal dari Amerika Serikat, termasuk minyak mentah, produk pertanian dan pesawat kecil.

Sebagai pembalasan, Trump mengatakan dia memerintahkan perusahaan-perusahaan AS untuk mencari cara untuk menutup operasional di China dan membuat produk di Amerika Serikat.

Namun, pada perdagangan Senin (26/8/2019), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa China telah mengajak untuk kembali ke meja perundingan.

minyak offshore

Mengutip publikasi riset Asia Trade Point Futures, saat ini pasar cenderung lebih berhati-hati menyikapi sikap Presiden AS Donald Trump. Namun, di sisi lain terdapat kabar bahwa Presiden AS Donald Trump siap untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani yang menjadi katalis positif minyak.

Trump mengatakan bersedia untuk mengadakan pertemuan dengan Iran jika situasinya tepat untuk membahas kebuntuan atas kesepakatan nuklir 2015.

“Kedua peristiwa ini secara umum mampu meredakan kekhawatiran pasar,” tulis Asia Trade Point Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (27/8/2019).

Di sisi lain, Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan bahwa sentimen lain yang berpeluang menopang kenaikan harga minyak untuk jangka pendek adalah hasil jajak pendapat Reuters yang memperkirakan cadangan minyak dan bensin di AS kemungkinan akan turun pada pekan lalu, yaitu sekitar 2,1 juta barel.

“Untuk sisi atasnya, level resisten terdekat terlihat di US$54,4 per barel, menembus ke atas dari level tersebut berpotensi memicu kenaikan lanjutan menuju US$54,9 per barel sebelum menargetkan resisten kuat di US$55,60 per barel,” ujar Faisyal seperti dikutip dari publikasi risetnya.

Sementara itu, lanjut Faisyal, jika bergerak turun, level support terdekat terlihat di US$53,6 per barel dan menembus ke bawah dari level tersebut berpotensi memicu penurunan lanjutan ke US$53,1 per barel sebelum menargetkan support kuat di US$52,4 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top