Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cari Dana US$80 Juta untuk Proyek Smelter, PT Timah (TINS) Dekati Finnvera

Proyek smelter baru milik PT Timah Tbk. (TINS) memerlukan dana sebesar US$80 juta dengan kapasitas 40.000 ton.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  14:35 WIB
Direktur Keuangan PT Timah Tbk. Emil Ermindra (kiri) memberikan paparan didampingi Direktur Alwin Albar, di Jakarta, Selasa (8/8). - JIBI/Dwi Prasetya
Direktur Keuangan PT Timah Tbk. Emil Ermindra (kiri) memberikan paparan didampingi Direktur Alwin Albar, di Jakarta, Selasa (8/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan PT Timah Tbk. sedang dalam tahap negosiasi dengan perusahaan Finlandia, Finnvera, untuk mendanai proyek ausmelt senilai US$80 juta.

Emili Ermindra, Direktur Keuangan Timah, mengatakan proyek smelter baru memerlukan dana sebesar US$80 juta dengan kapasitas 40.000 ton.

Proyek pembangunan memerlukan waktu selama 4 tahun dan sudah berjalan 16% hingga Agustus 2019. Diperkirakan, proyek ausmelt itu mulai beroperasi pada semester II/2021.

“Tim manajemen sudah penjajakan financing dengan pola export credit agency di Finlandia, tetapi persetujuan final akan ada di mereka,” katanya pada Senin (27/8/2019).

Emil mengatakan calon investor tersebut adalah Finnvera yang merupakan sebuah lembaga pembiayaan milik negara Finlandia, seperti Eximbank.

Perusahaan terebut bertugas memberikan pinjaman, kredit, dan jaminan. Pada semester I/2019, export credit guarantees and special guarantees yang dikucurkan Finnvera naik 60% secara tahunan dari 1,41 miliar euro menjadi 2,26 miliar euro.

Menurut Emil, kedua belah pihak telah menyepakati persetujuan prinsip. Pihak Finnvera berencana mengunjungi situs tambang milik TINS pada September 2019. Kunjungan tersebut yang akan menentukan cairnya dana US$80 juta.

“Persetujuan final nanti tergantung kami memenuhi aspek ramah lingkungan atau tidak karena mereka sangat perhatian dengan aspek lingkungan. Kami yakin itu akan lolos. Mudah-mudahan September ada perjanjian pendanaan,” katanya.

Menurutnya, perseroan tidak perlu membangun konsorsium sebab 3 tahun setelah proyek smelter baru berjalan modal yang dikeluarkan bisa kembali lagi. Apalagi 99% cadangan timah di Indonesia berada di konsesi milik TINS.

Adi Hartadi, Investor Relation Timah, menambahkan perseroan tidak bisa mengungkap detil skema pendanaan dengan Finverra. Pasalnya, ada perjanjian yang bersifat rahasia.

Adi mengatakan perusahaan pemeringkat seperti Moody’s dan S&P juga mulai memasukan aspek environmental, social and governance (ESG) sebagai pertimbangan pemeringkatan korporasi. London Metal Exchange (LME) juga berniat menerapkan hal yang serupa.

“Dengan begitu posisi kami akan semakin diunggulkan karena sebelumnya pangsa pasar kami kurang dari 10% sekarang sudah 20% dan itu akan jadi lebih besar lagi," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter pt timah tbk
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top