Notulen FOMC Juli Dirilis, Dolar AS Lanjutkan Penguatan

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 12.26 WIB, indeks dolar AS bergerak stabil cenderung menguat di level 98.304.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  13:57 WIB
Notulen FOMC Juli Dirilis, Dolar AS Lanjutkan Penguatan
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS mempertahankan kenaikannya pada perdagangan Kamis (22/8/2019) setelah rilis notulen FOMC periode Juli yang menutup beberapa harapan Bank Sentral AS tersebut akan agresif dalam pemangkasan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 12.26 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak stabil cenderung menguat di level 98.304.

Ahli Strategi Valuta Asing IG Securities Tokyo Junichi Ishikawa mengatakan bahwa notulen FOMC periode Juli memicu beberapa harapan dovish sedangkan pasar masih secara luas mengharapkan penurunan suku bunga acuan lebih lanjut karena pertumbuhan ekonomi melambat.

Dia mengatakan bahwa imbal hasil obligasi AS untuk tenor 10 tahun naik setelah notulen tersebut rilis dan mendukung pergerakan dolar AS, tetapi tidak akan bertahan lama menanti pidato Ketua The Fed Jerome Powell di pertemuan tahunan The Fed di Jackson Hole.

“Pemotongan suku bunga acuan AS lebih lanjut akan sangat dihargai oleh pasar. Jika Powell terdengar agak hawkish, saham bisa dijual sehingga akan melukai dolar AS terhadap mata uang safe-haven seperti yen,” ujar Ishikawa seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/8/2019).

Seperti yang diketahui, pada pertemuan terakhir The Fed pada Juli, Bank Sentral AS memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir menjadi 2,0% hingga 2,25%.

Dalam notulen pertemuan tersebut, anggota The Fed sangat terpecah untuk memutuskan pemangkasan suku bunga acuan pada bulan lalu, tetapi bersatu dalam keinginan untuk memberi sinyal tidak berada di jalur pemangkasan lebih lanjut.

Namun, pesan ini sepertinya tidak cocok dengan Presiden AS Donald Trump yang telah berulang kali mengkritik Jerome Powell karena tidak memangkas suku bunga secara lebih agresif dan membuat dolar AS semakin tinggi.

Adapun, mata uang Asia diperkirakan dapat diperdagangkan dalam kisaran ketat menanti pidato Powell di Jackson Hole untuk tanda-tanda seberapa jauh Bank Sentral AS siap untuk menurunkan suku bunga acuan.

Berdasarkan data FedWatch CME, terdapat probabilitas 100% dari penurunan suku bunga Fed pada pertemuan September, 75% peluang pemotongan tambahan pada Oktober, dan kemungkinan 48% kemungkinan lain dipotong pada Desember.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as, nilai tukar rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top